Defisit Referensi KMPL

Ini tentang kita yang selalu kekurangan sudut pandang

Sebuah Pengantar

Defisit Referensi: Kita yang Selalu Gagal dalam Bersudut Pandang

 “Semua rangsangan yang kita terima melalui seluruh panca indera kita bersifat obyektif, sementara semua rangsangan yang kita keluarkan dari panca indera kita adalah subyektif setelah sebelumnya terjadi pemrosesan lebih dulu sesuai nilai, moral, etika, pengetahuan serta kemampuan yang kita miliki.” 

-J.B. Wahyudi, seperti disampaikan kembali oleh Wendi Putranto pada sebuah wawancara JakartaBeat (https://www.jakartabeat.net/wawancara/konten/wawancara-dengan-wendi-putranto-menyusuri-belantara-industri-musik-dan-gairah-jurnalisme-rock-roll?lang=id)

Menjadi obyektif adalah hal yang paling mustahil dilakukan seorang individu. Saya jamin itu. Kita sebagai manusia selalu menyalahkan seseorang lain akan miskinnya sudut pandang mereka dalam menyampaikan pendapat, tetapi bukankah kita juga sama, sebenarnya?

Emosi, etika, dan nilai-nilai yang ditanamkan kepada kita mau tidak mau mempengaruhi cara kita “menanggapi” sesuatu. Sebuah pulpen yang jatuh di atas meja bisa diartikan menjadi sebuah meja yang dijatuhi pulpen, bisa juga sebuah ruang udara yang berisi pulpen dan meja, atau gravitasi yang menyebabkan pulpen jatuh di atas meja. Seseorang yang tak pernah merasakan orde baru akan berpendapat berbeda dengan seseorang yang pernah merasakan rezim tersebut. Pun bahkan, saat dua orang individu yang pernah sama-sama merasakannya juga bisa saja menanggapi rezim Jenderal supersemar ini dengan perbedaan hampir 180 derajat. Itu contoh kecilnya.

Ini juga mau tidak mau kita bawa saat kita menghasilkan sesuatu-baik menulis maupun berbicara. Saat kita menyampaikan hasil pemikiran kita, yang mana juga merupakan respons atas sebuah isu dan persitiwa, kita akan selalu sedikit banyak menggunakan sisi subyektif kita.

Setelah produk pemikiran itu tadi selesai, kita menyampaikannya kepada khalayak ramai. Bisa dengan tujuan berekspresi ataupun mengimpresi. Apapun itu, sebuah produk bernama “opini” tersebut adalah cerminan diri dan kualitas berpikir kita “saat itu”. Sadar atau tidak sadar, apa yang sebenarnya kita tunggu adalah “respons” orang lain atas satu sudut pandang subyektif tersebut. Kita melempar sebuah persoalan sepaket dengan pendapat pribadi kita sebagai manusia. Kita seperti bertanya dengan menggunakan tanda titik.

Kita menyampaikan “apa yang kita tahu” untuk menunjukkan “betapa tidak tahunya kita” (mengutip dan mengadaptasi pernyataan yang diatribusikan kepada Voltaire). Kita mengetahui sebuah hal dari proses olahan otak kita, yang itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk orang lain. Setelah itu, kita “melepasnya” untuk mendapat respons dari “orang lain” yang “lain” lagi. Semakin banyak respons yang didapat pada produk kita tersebut, semakin sadar kita bahwa selama ini sudut pandang yang kita pakai hanyalah secuil dari apa yang sebenarnya ada dan mungkin. Kita mengalami defisit referensi.

Apakah lalu kita harus menunggu untuk tidak mengalami defisit tersebut dan lalu menulis? Juga tidak. Bahkan itu sesuatu yang tidak mungkin. Kita selalu dan akan selamanya mengalami defisit referensi tersebut. Pada kenyataannya kita hanya bisa mengambil sesuatu yang “baik, sesuai, dan relevan” pada kondisi tertentu-dengan standar-standar tertentu mengenai isu tersebut. Kita sebenarnya tidak perlu tahu dan menerima mentah-mentah semua itu, tetapi senantiasa mengerti lalu menerapkan apa yang sekiranya terbaik untuk keadaan saat ini tanpa menolak berubah bila sudah tak lagi relevan di masa mendatang.

Intinya, kita harus “membuat” sesuatu terlebih dahulu guna mengetes/mempertanyakan pandangan kita tersebut. Bagaimana mungkin kita tahu bahwa kita salah bila kita tidak “bertanya” terlebih dahulu? Bagaimana kita tahu bahwa ada sebuah alternatif penalaran bila kita tidak melempar sebuah persoalan? Menurut saya, sebuah tulisan atau media apapun itu adalah sebuah hal yang penting dan harus, untuk mencapai sebuah titik di mana kita “tahu bahwa kita tidak tahu” ini.

Untuk itulah saya menulis, untuk itulah saya menyampaikan uneg-uneg dan pendapat saya. Karena dengan itulah, saya bisa tahu, sejauh apa saya bisa memandang sebuah persoalan dan mengetahui apa yang tidak saya ketahui dari orang lain.

Selamat membaca.

-KMPL-