Oke, kalau mau review singkat: Albumnya asyik, variatif. Namun entah mengapa ada yang ‘hilang’ dan ‘sayang’. Sudah ya? OK. Lanjut.

Substansi lirik Remissa di album ini mungkin masih sama dengan album Manifesto Mimpi mereka. Jika anda mau “memeras” dan “nguliti” lirik mereka, anda akan mendapatkan satu kalimat ini: Amalgamasi antara gejolak anak muda dan kritik sosial.

Ah ya, mungkin memang saya rasa anak-anak muda seumuran saya memang “dikutuk” untuk memiliki dua sisi yang kelihatannya saling berkontradiksi; di satu sisi kami ingin menyuarakan ketidaksetujuan, bersikap kritis, melawan dan memberontak; tetapi di sisi lain kami mempunyai sisi-sisi insekuritas personal, pertanyaan-pertanyaan eksistensialis, dan hal-hal prinsipil lainnya.

Okelah, saya rasa kalau anda mau tahu pergolakan-pergolakan prinsipil manusia berumur seperempat abad, cukup dengarkan “Rantau”.

Lanjut.

Sehabis mendengarkan album ini, pikiran saya hanya satu: Melihat Remissa memainkan repertoar album ini di depan acara Kamisan. Saya rasa mereka sudah khatam kalau hanya main di gigs-gigs intim skala kota. Dengan kata lain, jika boleh menuntut sedikit lebih, inilah saatnya mereka menaikkan “kelas” dengan membawa karya-karya itu pada tempat di mana mereka seharusnya disuarakan. Setidaknya kita tak bisa terus-menerus berharap membawakan suara-suara kritis di tengah crowd yang malah cenderung apolitis, bukan?

Inilah yang mungkin akan menjawab pertanyaan yang “diwariskan” Ucok Homicide kepada saya lewat bukunya: Apakah band dengan lirik ‘kritik sosial’ hanya akan berakhir menjadi narator ‘reportase’, mencari pembenaran atas populernya mereka, atau masih dan akan terus relevan, menginspirasi, dan yang paling penting, true terhadap kata-kata mereka?”

            Bukan apa-apa, sebenci-bencinya saya dengan segala pelabelan, namun kadang memang actions speak louder than words- and we have to conclude from them. Kalau anda mau membaca lirik-lirik Remissa, mereka seperti berbicara dalam sebuah “konsep besar” tentang ketidaksetujuan. Salah satu bukti paling keliatan tentu saja tendensi self-reference (kita dapat menjumpai pengulangan-pengulangan punchlines yang saling berhubungan) di dalam karya-karya mereka.

Ini menimbulkan kesan bahwa mereka ingin kita melihat sebuah “gambaran yang saling terhubung” antara 1 lagu dengan yang lainnya. Remissa seakan-akan “berbisik” bahwa lagu-lagu ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwa mereka berbicara mengenai satu hal yang benar-benar terjadi hari-hari ini; entah itu perampokan SDM, bias media, konglomerasi sampai kongsi-kongsi perusak lingkungan.

Dan ya, saya rasa konsistensi atas tema-tema rebel dan tidak main aman seperti yang mereka lakukan mau tidak mau membawa mereka ke dalam dimensi pergerakan yang saya uraikan sebelumnya di atas.

Inilah yang akan menjadi semacam ujian bagi Remissa (atau band-band yang memutuskan mengambil jalan serupa). Apakah musik super-catchy mereka hanya berakhir untuk euforia headbang semalam saja, mengisi gig nawak-nawak dengan kepulan asap rokok dan angkatan gelas, dan selesai, pulang, dengan tidak menyisakan apapun kecuali hormon adrenalin yang telah terluapkan selama 30 menit itu tadi?

Ataukah justru musik & utamanya, pesan-pesan yang tertuang dalam pilihan diksi cerdas nan saling berhubungan itu memang akan berhasil masuk, merasuk, menyelimuti ruang-ruang kosong ideologis para penontonnya? Lalu mengingatkan mereka semua bahwa “dunia sedang tidak baik-baik saja” serta membuat orang-orang yang mendengarkannya tergerak, atau setidaknya, terinspirasi untuk membuat sesuatu yang “lebih” sebagai manifestasi pesan-pesan mereka tersebut?

Pun jika memang tema protes seperti ini hanya berakhir di opsi pertama; Menjadi gimmick, atau hanya menjadi tren dan fashion, so be it!

Saya rasa kita sudah sama-sama paham sejak “Bongkar” menjadi iklan kopi, bukan?

KMPL- (@randy_kempel)

Maaf, ini bukan review. Review album ini sudah dilakukan oleh Radinang Hilman di situs GeMusik di bawah ini. Setelah selesai menulis artikel ini, saya membaca review-nya si Memen tersebut; 65% saya setuju, 20%-nya tidak, 15% sisanya hanya bisa diselesaikan wedges Houten.

https://news.gemusik.com/remissa-tegangan-tinggi/

 

 

 

Advertisements