Hari-hari ini, saya sering menemukan acara-acara “pecah rekor grudug’an” di kancah permusikkan sekitar saya. Ada yang 10X Bass, 10X Voice sampai yang terbaru, program ini (sepertinya) diadopsi oleh sebuah produk rokok dengan tagline “1015 Musicians Breaking the World Record”. Ini membuat saya bertanya-tanya, “Ada apasih dengan program-program semacam ini?”

Saya gitu sebenarnya pengen ikut, cuman ya gimana ya. Saya tidak pede sama saya sendiri sebagai pemusik. Skill saya ya gitu-gitu aja, ditambah band saya sendiri juga gak terkenal-terkenal amat. Ya ada perasaan malu gitu sih, makanya saya gak ikut. (Sebenarnya tulisan ini sudah bisa berakhir pada paragraf ini)

Tetapi, asumsikan saja bahwa seandainya, saya adalah seorang yang, let’s say, bisa nggitar shredding dengan skill bulilik-bulilik di atas Yngwie Malmsteen yang lagi ngganja (eh, jangan, LSD aja). Atau, skill saya cukup membuat Fifan Christa Jordan Rudess memanggil saya “senpai” sambil memohon-mohon diajari cara bermain keyboard yang baik dan benar, mungkin saya masih tetap tidak mau ikut ajang grudug’an semacam itu. Ada beberapa alasan yang mungkin bisa saya kemukakan di sini.

Oh, satu lagi. Sebelum lanjut membaca, ini bukan berarti saya kontra terhadap teman-teman yang ikut ajang ini. Tidak masalah, itu pilihan. Hanya, saya ingin menawarkan sebuah sudut pandang lain dalam melihatnya. Semoga bermanfaat. Monggo…

Alasan saya tidak mau ikut program ini karena tidak ada impact apapun yang bisa bermanfaat dalam karir band-band’an saya- jikapun ada, kecil. Ikut ajang-ajang seperti ini memang menambah diskografi karya atau album saya? Apakah jika dalam menulis track record, berpartisipasi pada ajang seperti ini bisa menambah tingkat ke-noticeable’an saya seperti saat memakai kaos kuning menyala milik Dizzyhead? Unfortunately, NO. Berpartisipasi dalam ajang seperti ini tidak akan memberikan efek besar kepada karir musik saya dan anda, menurut saya.

Lebih jauh lagi, ajang seperti ini tidak menambah nilai personal atau band kita. Saya sederhanakan saja logikanya. Coba bayangkan, anda ikut ajang 1015 musisi itu, lalu apakah anda lalu menjadi penting di sana? Tidak. Nilai jual dan daya tawar anda dalam ajang tersebut, hanyalah satu dibanding 1015 orang. Sad news, anda tidak akan ter-notis secara personal, karena anda disamaratakan di sana. Contoh konkrit, semisal Band Asparagus, band Sop, dan band Rawon- yang sama-sama belum punya nama, ada di sana dan sama-sama memainkan satu lagu bersama, yang dilihat penonton BUKANLAH per band tersebut, tapi hanya “Sekumpulan musisi random yang kebetulan bermain bareng-bareng”. Orang-orang tidak akan melihat, Oh, ini lho personel band A, B C main bareng. Kejam, no?

Kecuali, jika pada ajang tersebut ada sebuah space kosong dalam acara untuk anda/ band anda showcase dan mempresentasikan musik anda. Anda punya kesempatan untuk menunjukkan, “Iki lho aku, duwe band A duwe karya dewe”. Kemungkinan anda untuk diperhatikan jelas lebih besar dengan pertunjukkan secara personal daripada digabung grudug’an seperti itu. Sayang sekali, paragraf ini agaknya hanya sekedar wacana (dan sepertinya tidak akan mungkin memberikan waktu perform untuk ribuan musisi secara personal dalam 1 hari). Nyatanya, kembali lagi, semua musisi di sana punya kedudukan yang sama dan disamakan dalam satu label bernama “1015 musisi Indonesia”.

Tentu akan lain cerita, bila anda adalah personel Anthrax yang dikolaborasikan dengan musisi-musisi dari Metallica dan Slayer. Beda cerita. Sebelum mengikuti ajang inipun, mereka semua sudah punya “nama” masing-masing, sehingga, mereka akan dipandang sebagai sebuah “sosok yang berkolaborasi”, bukan sekumpulan musisi yang masih berusaha mencari “nama” dan eksistensi. Nah, kita ada di tahap mana? Silahkan jawab sendiri dalam hati.

Secara pribadi, saya sebagai penyelenggara acara TIDAK AKAN bertanya “apakah anda pernah ikut ajang pecah rekor?” untuk konsiderasi mengundang anda sebagai bintang tamu dalam acara saya. Saya, sebagai penyelenggara acara hanya akan memperhatikan 3 hal: 1) Karya dan diskografi anda; 2) Kesesuaian tema acara; dan 3) nilai jual yang berimbas pada jumlah massa yang anda bawa pada acara- dan terakhir, mau dibayar murah, heuheuheuheu. Sudah. Itulah yang akan saya pikirkan tatkala memikirkan mengundang sebuah band, bukan malah melihat jejak rekam “ajang pecah rekor” atau konser yang di situ-situ aja.

Sekali lagi, menurut saya ajang seperti ini sangat rancu, mengingat standar bermusik pada era sekarang adalah BERKARYA sendiri, menghasilkan PRODUK yang nantinya menjadi “amunisi” dalam eksistensi bermusik kita. Dan sesungguhnya, keuntungan pada acara ini bukanlah pada para musisi yang mengikutinya, namun lebih kepada event dan lebih jauh, korporasi yang ada di belakangnya. Lho kok bisa?

Ya coba bayangkan, dengan segala foto dan hashtag anda di media sosial, itu merupakan PROMOSI GRATIS bagi event dan korporasi tersebut. Seakan-akan, anda dijadikan buzzer gratis’an hanya dengan timbal balik dilabeli “musisi betulan” yang ikut event (yang katanya) “keren”. Lho mas, tapi kan followerku cuman 300’an? Iya mungkin cuman 300’an, lha tapi masalahnya bukan kamu saja yang posting, tapi BANYAK. Asumsikan jika ada 3 orang saja, maka kemungkinan sudah ada 900 followers yang melihat itu (tidak menghitung followers bersama). Apalagi, jika berbeda kota yang circle pertemanannya jelas tidak sama dan lebih heterogen, gimana? Wuuuuh, gila-gilaan gak tuh?

Nah, kalau saya sih, daripada menghabiskan energi untuk ikut ajang-ajang begituan yang efeknya tidak terlalu besar, mengapa energi dan skill anda tidak digunakan untuk menciptakan karya anda sendiri? Strategi promosi hingga konsep panggung live demi keberlangsungan band anda sendiri? Itu menurut saya lebih efektif dalam menciptakan sebuah eksistensi band anda sendiri daripada ikut ajang yang bahkan band anda sendiri tidak ter-notice secara personal.

Toh, jika mereka berkilah bahwa ajang ini merupakan ajang pecah rekor dengan “1015 musisi”, bukankah tidak mungkin tahun depan mereka akan “memecahkan” rekor mereka sendiri dengan “1016 musisi”? Lha wong sebenarnya itu semua hanya soal pelabelan kuantitas kok.

Lha nama anda yang (katanya) masuk dalam sejarah?

Ya hilang.

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements