Begini, perspektif tulisan ini diambil dari sudut pandang musisi. Apapun itu, kalian dan saya yang mengaku pegiat musik, musisi indie, atau mungkin hanya sekedar “macak” biar tenar, bukanlah hal yang aneh bahkan cenderung lumrah bila dalam karir musik-musikkan kita itu bisa berjalan mulus atau setidaknya melangkah maju semakin hari.

Saya tahu saya sebagai musisi juga belum sukses-sukses amat (band saya masih gini-gini aja), makanya kadang-kadang kalau sempat saya pasti kepengen ikut workshop-workshop yang diadakan oleh produk rokok, organisasi pemerintahan sampai pegiat seni sendiri dalam rangka memajukan musik saya sendiri. Nah, seringkali event semacam ini mengundang artist-artist yang sudah mapan atau sudah “punya nama” dan power untuk berbicara panjang lebar. Dan yang pasti, punya fans yang banyak (ya iyalah, namanya juga branding, eheeem…)

Benar, kehadiran artist yang sudah cukup mapan untuk membagi ilmunya bukanlah sebuah kesempatan yang bisa hadir setiap minggunya lho. Serius. Kapan lagi kamu bisa menghadirkan workshop dengan Bunda Iffet (Slank), atau Endah and Rhesa yang dengan senang hati membagi pengalaman-pengalaman bermusiknya? Tidak setiap minggu, dan tidak setiap hari, Bung! Dan bagi saya, cukup mengecewakan bilamana kesempatan seperti ini dilewatkan begitu saja.

Tetapi agaknya, terkadang menghadiri workshop musik memang tidak untuk menghadiri workshopnya, tetapi lebih menikmati performance artist tersebut. Ya, tidak salah karena sejatinya konsumen selalu benar (dan kritikus hanyalah anjing menggonggong). Saya tidak menyalahkan para penonton yang memang mau menonton konser sembari memegang hape dan merekam mereka di sana. Hal itu wajar, karena, sekali lagi, sesungguhnya terkadang workshop dan konser musik adalah branding yang terselubung, heuheuheuheu.

Nah, yang saya kritisi di sini adalah sikap musisi atau pegiat seni atau apalah itu indie-indie gitu yang mengaku datang ke situ untuk menimba ilmu. Apalagi, beberapa di antara mereka berasal dari sebuah organisasi musik yang mana katanya merupakan muara berkumpulnya musisyen-musisyen yang mengharumkan nama sebuah kota atau paling tidak, institusi. Akan sangat sayang pihak-pihak yang telah mendaulat dan didaulat sebagai ujung tombak ekonomi kreatif Indonesia ini ternyata hanya berleha-leha saja tanpa mengembangkan dirinya sendiri di workshop tersebut, menurut saya, sekali lagi.

Contohnya, saya gitu kok ya agak risih ya kalau sehabis acara workshop musik atau apalah itu, para peserta malah memilih untuk mengutamakan pengabadian momen dengan si narasumber. Emmm, tidak salah sih, ‘kan juga buat sarana panjat sosyel. Namun ya sebagai seorang mantan poseur garis lembek, saya jadi agak gimana gitu. Kok kayaknya terlalu sayang gitu jika setelah pembelajaran, tidak ada follow-up kepada si narasumber di luar forum dan malah menomorsatukan momen foto-foto.

Lebih dalam lagi, saat pasca acara, nyatanya selalu ada kesempatan untuk berbicara secara intim dengan artist di luar acara. Saya yakin itu, meskipun mungkin tidak semua artist serendah hati itu mengadakannya. Tetapi setidaknya, bila tujuan artist tersebut memang tulus untuk memajukan kancah permusikkan sebuah kota, saya rasa mereka akan fine-fine aja dengan sesi pribadi seperti itu, sepanjang tidak mengganggu jadwal yang sudah mereka susun.

Lho, tapi aku grogi lho mas, aku mah apa….hanya setetes air di tengah samudra yang tiada berarti…:(

Nah, hal-hal seperti ini bisa mulai dibangun dengan menghampiri artist, memperkenalkan diri sebagai sesama musisi dan berinisiatif dalam membuka obrolan. Tetapi yang kebanyakan yang terjadi, banyak dari kita (dan saya terkadang) yang terlalu grogi untuk menghampiri mas-mas kece narasumber ini. Dan, secara sadar atau tidak, memberi kesan “memohon-mohon” untuk ter-notis (notice me, senpai!) oleh artist. Sehingga, sebagai artist, mungkin mereka akan menutup kesempatan bicara bahkan sebelum kata pertama keluar dari mulut kita.

Khusus hal ini, partner saya adalah jagoannya. Dia punya trik kecil seperti “macak” ingin titip rilisan bandnya (menurut beberapa sumber, bandnya masih baru), atau sesepele memberikan sebuah zine kepada artist ibu kota atau jika tidak, melalu manajernya. Dengan punya karya, katanya, akan meningkatkan kepercayaan diri kita menghadapi artist, karena pada zaman sekarang, “Karyalah produk utama” (jare mas paling ganteng sakdonyo, Fifan Christa). Intinya, janganlah kita terkesan menjadi seorang fans kepada artist, tetapi lebih kepada sesama pegiat seni di Indonesia yang “setara”.

Terbukti dengan trik ini, teman saya sudah mengenal secara personal beberapa figur yang kita semua hanya bisa impikan hadir di Pensi-pensi kita, mendapatkan banyak pelajaran dan sharing ilmu dengan mereka. Dan juga, ternyata mereka juga banyak yang antusias dengan perkembangan musik di kota ini. Dan, semua itu dilakukan dalam sebuah sesi pribadi layaknya seorang teman yang sedang berbicara kepada sesama temannya, bukan artist kepada fans-nya apalagi groupies.

Ya, sejatinya obrolan-obrolan off the record seperti itulah yang mungkin lebih “menantang” daripada wacana dalam forum dengan kualitas audiens yang heterogen- banyak yang mengerti, tetapi lebih banyak lagi yang sibuk selfie. Para narasumber di sinipun saya yakin juga akan menurunkan standar bahasa mereka agar lebih mudah dicerna qhalayaq ramai. Belum lagi, sesi QnA yang terkadang memunculkan pertanyaan yang itu-itu saja dan klise. Untuk itulah, forum di luar forum sepertinya bakal jadi perbincangan yang menarik- apalagi bila narasumber yang diundang sangat humble dan open dalam diajak berdiskusi.

Tapi ya mau gimana lagi, toh sejatinya mau maju atau tidak, belajar atau tidaknya juga kembali ke musisi dan individu masing-masing. Ya semua itu hak prerogatif. Hanya saja, jika kesempatan dan kemungkinan sedemikian lebarnya terbuka dan masih ada keluhan,

“Duh, bandku kok gak maju-maju koyok mbak mas kuwi ya?”

“Duh, bandku kok gini-gini aja ya?”

“Hmmm, pengen rek diundang manggung nang kene.”

 

Berarti kita tahu sedikit banyak kesalahan ada di pihak mana.

 

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements