“Tawaran sudut pandang akar rumput dengan musik yang (lebih) accessible”

Jika pertamakali mendengar nama Tahu Brontak dan mengira ini adalah band horok-horok-sebuah ungkapan derogatif untuk mendeskripsikan musik dengan vokal harsh (biasanya dari subgenre Hardcore & Metal), maka anda tidak sendiri. Saya, dan mungkin banyak orang lainnya juga begitu. Bahkan saya dulu pernah seringkali sampai menghindari panggung Tahu Brontak karena masih “sayang” dengan telinga saya. Oh ya, no offense, saya pribadi kurang menyukai musik-musik harsh (ini preferensi musik saja, jangan dimasukkan hati), toleransi terluar saya mungkin hanya sampai Metallica.

Lalu setelah pada satu event akhirnya saya “terpaksa” untuk melihat band ini, perkiraan saya berbalik 180 derajat. Ternyata band ini adalah salah satu band “kocak”. Terserah anda mau mengartikan kocak seperti apa, yang jelas saya seperti melihat Tani Maju yang dikemas (agak) lebih “keras” namun terdengar lebih stripped down juga, lebih simpel, menurut saya.

Unit ini bisa dibilang adalah ikon musik Batu saat ini. Saat Re-Launch album “Merendah Untuk Meroket” mereka beberapa waktu lalu, bahkan walikota Batu Eddy Roempoko sampai hadir dan secara personal ada di sana untuk memberikan support. Grup yang didirikan sejak sekitar tahun 2006 dan beranggotakan Adam (vocal), Arik (vocal), Abid (lead guitar), Alfi (bass), Dimas “Samun” (drum), Hagi (perkusi), Wahyu (kendang), dan Chandra (mandolin) nyatanya sudah bisa disinonimkan namanya dengan Batu, menurut saya.

Seperti yang saya bilang di atas, Tahu Brontak seperti ini: sebuah orkes dengan instrumentasi Tani Maju tapi dengan warna musik lebih “merakyat”. Seperti pada review saya tentang Tani Maju di edisi 4 kemarin, setelah lagu “Castol” meledak, banyak band-band yang mengikuti jalur yang “dibabat alasnya” oleh TM. Tentunya, “rakyat” di sini berarti masyarakat kalangan menengah ke bawah, seperti label yang mereka bawa: Grassroot Revolt, pemberontakan akar rumput. Secara influence dari TM, saya mungkin bisa menerka mereka terpengaruh dari musik Endank Soekamti, sampai Dangdut Pantura.

Lirik-lirik Tahu Brontak kebanyakan bertema tentang kisah-kisah sehari-hari baik yang mungkin sangat sering ditemui (seperti lagu Fesbuuk, Dinda, Cinta KW) sampai yang agak serius seperti isu lesbian dalam lagu (Salah Sangka). Kebersamaan, egaliter, dan persaudaraan juga hadir di materi-materi mereka. Semua itu tetap dikemas dengan ringan sehingga terdengar agak lucu (receh sih), namun nylekit juga. Selain itu juga ada lagu yang mengangkat isu sosial dan lingkungan seperti UKS (Umbul Kita Semua) & Alamku, Alammu, yang mana saya sesalkan malah jarang dibawakan di show-show mereka, apalagi di kalangan mahasiswa yang (katanya) kaum revolusioner.

Daripada warna musiknya, saya sebenarnya lebih ingin bicara tentang pergerakan mereka. Seperti yang sudah saya bilang di atas, sebenarnya banyak karya di album “Merendah Untuk Meroket” adalah materi dengan topik “berat”. Bicara masalah lesbian dalam Salah Sangka tentunya menawarkan kita sudut pandang mereka dalam melihat masalah LGBT ini. Lalu, ada juga Pengobral Cinta yang, kalau boleh berkomentar adalah cara mereka memandang isu gender equality, terutama feminisme, menurut saya. Lalu isu sosial dan lingkungan dalam Alamku, Alammu dan UKS. Maksud saya, citra apa sih yang sebenarnya diinginkan Tahu Brontak? Lalu juga diskursus tentang sudut pandang mereka dalam melihat topik-topik ini, terutama dari kalangan menengah ke bawah mungkin juga bisa jadi tambahan referensi bagi orang-orang yang cenderung lebih suka berfilosofi dan ngopi di pojok kafe mewah ber-WiFi sambil mentagarkan #FuckSociety.

Ya, Tahu Brontak seperti menawarkan sudut pandang orang-orang “awam”, menurut saya. Saya tidak tahu secara personal apakah mereka juga berpendapat demikian, yang pasti tentunya dengan karya-karya seperti itu, mereka juga akan banyak dicari dan memantik kontroversi. Ya, dipuji atau dicaci. Toh semua hanya tentang “kebenaran” (efek habis kena Megatruh).

Ah, Tuhan, bukankah bersudut pandang itu menyenangkan?

tahubrontak-1 (1)

IG         : @tahubrontakid

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements