Jika anda akhirnya membaca tulisan ini, berarti anda adalah orang bebal. Lha wong sudah dibilangi jangan dibaca kok, malah diteruskan. Maunya apa? Kaceren? Hehehehe.

Oke, anggap saja saya sudah memaklumi ketidakberdayaan dan ketidakmampuan anda dalam  ngempet untuk tidak membaca tulisan ini. Saya harap anda tidak menyesal menyimak beberapa poin yang saya sampaikan mengenai pameran ini dan pendapat saya di dalamnya, karena, saya sebenarnya juga kurang kompeten dalam berbahasa intelek khas pameran seni rupa (basic saya sebenarnya hanya jadi rakyat jelata di dunia perskena-an musik kampus saya). Semoga. Toh, jika anda bosan, tinggal lihat pameran dulu, terus kembali lagi ke sini. Sesimpel itu.

Datang ke acara pameran saya rasa bukanlah sebuah media “panjat sosial” yang strategis, belum. Kamu tidak akan (merasa) dipandang “keren”, “kekinian”, “edgy” atau apalah itu bila datang ke sebuah acara pameran seni-kecuali yang memang diadakan oleh figur-figur yang sudah terkenal, semisal, Saya dan Nauval Vicky Prasetyo dan Jonru. Tidak, datang ke dalam sebuah acara pameran tidak semenjual itu jika dbandingkan dengan datang ke konser band kekinian, menurut riset yang saya adakan tanpa metode random sampling yang relevan di dalamnya. Tapi sepertinya ada benarnya juga pada banyak kasus.

Ya, nyatanya, datang ke acara konser musik indie-biasanya gratis’an dengan embel-embel sponsor rokok di belakangnya masih menjadi trending topic anak-anak muda sekarang dalam menaikkan strata sosyel-nya. Saat kamu mau dibilang puitis, kamu akan selalu datang ke konser-konser Payung Teduh dan Float, atau kalau mau dicap progresif, datang saat Mas Cholil dkk main ke Malang. Ditambah lagi, setelah ada di sana, sebenarnya kamu tidak sedang menonton konsernya, tapi malah sibuk mengabadikan momen dengan IG stories ataupun sekedar ber-selfie ria demi terciptanya branding diri biar terkesan indie gitu di sana (sumber: obrolan saya dengan beberapa dedengkot musik Malang). Seakan, setelah pulang konser, kamu merasa sudah berkasta Brahmana setelah sebelumnya hanya jadi Waisya, hehehehe.

Entah mengapa, ini belum terjadi dalam dunia pameran seni. Mendatangi pameran seni tidaklah semenjual itu dalam meningkatkan “sosyel lyfe”. Sementara ini, mengunjungi pameran seni bisa dikatakan sebagai bentuk solidaritas pertemanan. Tetapi inilah yang saya syukuri. Bahwa, sesimpel atau seabstrak apapun anda berada di sini, paling tidak anda memang tulus dan ikhlas menyisihkan beberapa menit dalam hidup anda memandangi karya milik Nauval tanpa embel-embel ingin ikut “terkenal” karena dia (sepertinya pada poin ini saya salah). Jangan. Tidak ada gunanya kenal dengan orang ini, kecuali jika anda penganut mazhab Abank Coffee.

Intinya, apapun alasan anda datang ke dalam sebuah pameran seni, jangan sampai ke depannya event pameran ini bernasib sama dengan banyak konser musik. Di mana ia hanya dipandang sebagai legitimasi “keren” dan “kekinian” daripada sebuah usaha dalam menikmati suguhan karya seni sendiri. Tetapi mau tidak mau tanda-tandanya sudah mulai terlihat melalui metode cocoklogi pribadi saya. Terbukti dengan semakin banyaknya mbak-mbak & akhi-akhi yang dengan bangganya selfie menyentuh karya orang lain meskipun ada tulisan besar “Don’t touch the Artworks”. Semoga saya salah.

Akhir kata, keenam paragraf di atas hanyalah sebuah poin-poin kurang penting. Yang terpenting adalah, silahkan anda meneruskan perjalanan anda dalam melihat karya-karya Nauval setelah ini. Lihatlah bagaimana dia yang sudah mencabik-cabik diri dan kesadarannya demi menelurkan beberapa produk mengenai apa yang terjadi di sekitar kita. Semoga saja, mata-mata anda (dan kamu) yang dulunya “buta” atau “memilih buta” bisa terbuka sekali lagi setelah melihat berbagai karyanya. Semoga.

-KMPL- (@randy_kempel)

 

Tulisan ini dimuat sebagai tulisan pembuka dan leaflet pameran “Menjagal Kewarasan” yang diadakan pada tanggal 30 Juli-4 Agustus 2017.

Advertisements