Pada sesi kedua sambatan saya sebagai seorang mahasiswa semester akhir ini, saya ingin menyampaikan hasil riset kecil-kecilan tentang beberapa sebab mahasiswa telat/menunda/tertunda/ditunda kelulusannya. Meskipun tidak menggunakan metode sampling yang memadai untuk dijadikan skripsi, tetapi agaknya memberikan gambaran apa-apa saja yang menyebabkan kemoloran bernas aib ini.

 

Meskipun memang, pada dasarnya menuntut ilmu di sebuah kampus memang erat kaitannya dengan pekerjaan di masa mendatang. Menyiapkan gelar demi terciptanya masyarakat madani jelas bukan sesuatu yang salah apalagi bagi para pemuja quote Bill Gates-yang mana ternyata juga bukan lulusan sarjana. Tapi apa daya, memang tidak semua orang bisa sekreatif Pak Gates sampai menemukan Microsoft, lebih banyak orang yang perlu jadi PNS atau pegawai kantoran untuk menghidupi keluarganya.

Tetapi, mencermati beberapa kasus telat lulus di sekitar saya adalah sebuah hal menarik di tengah derasnya paksaan tetangga giting, orang tua yang bekerja mati-matian “menyusui” anaknya di kota rantau, hingga pacar yang kebelet dikawin ingin cepat nikah. Kredo bahwa lulus, kerja, kawin, tua memang agaknya sudah melekat di sebagian besar orang tua mahasiswa sebagai standar “aman” hidup “sejahtera”. Pun, saya juga agak mengamini hal tersebut, meskipun saya sendiri juga tidak mau ikut dalam jalur penerimaan hidup seperti itu-setidaknya untuk sekarang.

 

Beberapa Pendapat

Seorang teman mengatakan bahwa ia dengan sengaja menunda kelulusannya karena dia ingin menggelar pameran tunggal. Ia mengatakan bahwasannya itu merupakan sebuah tanggung jawab pribadinya sebagai seniman; sebuah dorongan yang menurutnya memang dari dalam dan tidak ada alasan khusus untuk itu. Ia juga menambahkan, memang pada kenyataannya dia tidak siap untuk lulus dan ngapa-ngapain dengan tuntutan pekerjaan dan kehidupan.

Lalu teman saya lainnya, ia memilih untuk menggeluti dunia permusikkan dengan menjadi manajer seorang artist yang sedang naik daun saat ini. Ia beralasan bahwa mungkin ia “tidak begitu tertarik” akan hingar bingar jadi “hanya” jadi PNS, living a normal life-setidaknya belum. Memang risky sekali, karena orang-orang di sekitar kitapun belum memandang musik sebagai sebuah pekerjaan. Tetapi biar bagaimanapun ia menutup statement-nya jika kuliah merupakan tanggung jawab dan ia pasti akan menyelesaikannya, entah kapan.

Lain lagi dengan teman saya yang lainnya. Ia mengatakan bahwa ada sebuah problem yang menghantam keluarganya yang mengakibatkan ia harus menunda kelulusannya. Saya tidak mau bertanya lebih lanjut karena mungkin itu adalah hal personal antara ia dan keluarganya. Namun setidaknya, ini memberikan gambaran sedikit bahwa terkadang telat lulus bukanlah sebuah “pilihan”, tetapi keadaan.

Selain hal-hal di atas, ada banyak faktor lain untuk tidak lulus tepat waktu. Di antaranya, cuti kuliah, bekerja, menikah, terkena masalah-masalah eksternal hingga, yang paling sering, hanya malas saja. Beberapa juga memilih untuk meningkatkan soft skill dengan mengikuti organisasi dalam maupun luar kampus. Ada yang mengikuti program mengajar, komunitas seni, hingga program-program sosial untuk bermanfaat pada masyarakat sekitar. Pada satu titik ekstrimnya, ada seorang kakak tingkat yang saking aktifnya ngejob dan berorganisasi hingga menyelesaikan studinya pada masa maksimal perkuliahan, 8 tahun. Meskipun begitu, selepas lulus, ia tidak pernah sekalipun bingung akan pekerjaan karena bukan dia yang mencari, tetapi merekalah yang datang.

 

Pendapat Pribadi

Saya sendiri menunda kelulusan karena beberapa hal; ada kejadian-kejadian tak terduga yang tidak bisa saya kontrol di hidup saya, idealisme pribadi untuk belajar di luar kampus, dan yang terpenting, saya takut untuk lulus “saja”. “Saja” di sini berarti saya hanya lulus, bermodal ijazah tanpa punya skill apa-apa ke depannya. Oke, mungkin saya mendapatkan skill dari perkuliahan, tetapi apa bedanya saya bila dibandingkan secara vis a vis dengan ratusan orang di angkatan saya? Lebih jauh lagi, ribuan lulusan lain dalam satu jurusan saya dari beberapa tahun di atas saya, lebih kompleks lagi, lulusan kampus lain baik yang satu maupun beda jurusan. Apa yang bisa MEMBEDAKAN dan menjadi NILAI TAWAR saya ke depannya selain selembar ijazah untuk menghadiri Job Fair sambil setengah mengemis-ngemis pekerjaan kepada manajer sebuah bank? Tidak, saya mungkin tidak serendah hati itu untuk melakukannya.

Lalu apa yang bisa saya sumbangkan ke masyarakat luas? Apakah dengan menjadi sarjana, saya bisa bermanfaat untuk memperbaiki apa yang salah di sekitar saya? Ataukah gelar hanya akan jadi pajangan harga diri untuk dipamerkan di rumah atau sarana pemanjang nama saja? Tidak, saya tidak akan setega itu membohongi orang banyak dan diri saya sendiri. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi saja tertulis ada sebuah peran pengabdian masyarakat, lalu apakah saya sebagai seorang lulusan mahasiswa mengkhianati keinginan luhur itu dengan ongkang-ongkang mencari pekerjaan demi kepentingan pribadi dan keluarga saja? Apa yang bisa saya berikan kepada bangsa saya? Atau kalau terlalu muluk-muluk, apa yang bisa saya sumbangkan kepada orang-orang di sekitar saya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus ada di pikiran saya saat menulis skripsi dan menyelesaikan lembar-lembar syarat kelulusan. Jujur, saya takut untuk lulus. Saya takut membohongi diri saya sendiri dan orang banyak bahwa saya ternyata tidak bisa apa-apa tanpa selembar kertas ijazah, saya ingin lebih dari itu.

 

Tetapi kembali lagi, memang agaknya harapan tersebut selalu dibenturkan oleh standar masyarakat banyak.

 

Ya. Telat lulus bagi sebagian orang mungkin sebuah aib besar. Saat tetangga di rumah dengan bangsatnya bertanya-tanya, entah itu dengan niat baik atau hanya bahan rasan-rasan, “kapan lulus?” ke ayah ibu kita, tentunya akan berimbas pada pemberian jatah sangu dan logistik orang tua kepada anaknya di kota rantau tersebut. Bagi orang-orang tersebut, lulus tepat waktu merupakan sebuah pride atas nama cepat kawin, bekerja, punya anak lalu mati bahagia meninggalkan warisan. Ah, mungkin memang naif sekali ya pemikiran saya yang menganggap kuliah sebagai bentuk tanggung jawab dan “titik aman” dibandingkan orang-orang tersebut di atas.

Tetapi sayang sekali jika ada beberapa orang yang, dalam tanda kutip “menghakimi dengan mudahnya” bahwa telat lulus merupakan sebuah aib yang harus segera dibasmi. Tentu tidak akan sesuai jika dikaitkan pada pemahaman bahwa sebenarnya ada banyak sekali alasan untuk itu, dan, beberapa memang tidak terelakan terjadi dalam hidup seseorang. Hidup itu pilihan, meskipun terdengar klise, saya mengamini tagline itu. Meskipun saya tidak mau untuk menghabiskan masa muda saya untuk menjadi PNS, itu bukan berarti saya mendiskreditkan pekerjaan itu. Kembali lagi, beberapa orang memang masih ingin memegang teguh keinginannya untuk “RELA melakukan sesuatu karena senang” instead of  “DIHARUSKAN melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang”.

Pun saya juga tidak berpihak sepenuhnya pada orang-orang yang telat lulus karena menurut saya, kuliah adalah, kembali lagi sebuah bentuk tanggung jawab. Tanggung jawab kepada lingkungan, masyarakat dan yang paling penting, keluarga. Apapun pilihannya, tentu saya sangat menyayangkan jika kuliah hanya dipandang sebelah mata. Dalam pemikiran yang lebih realistis, gelar sarjana akan bermakna banyak apalagi untuk sebuah fail-safe jikalau terjadi apa-apa dalam kehidupan anda nanti, tak peduli seidealis apa anda (bukan, bukan untuk digadaikan ijazahnya). Dan, tidak menutup kemungkinan anda ternyata bisa melakukan pekerjaan YANG SEJALAN dengan bidang yang anda senangi. Standar saya dan anda-anda sekalian mungkin masih pada passion, tapi tidak menutup kemungkinan juga kan, pada satu titik nanti kehidupan mengajarkan anda HOW TO SURVIVE instead of HOW TO BE HAPPY?

Sebagai penutup, saya akan selalu berada di tengah-tengah. Kunci utama dari semua blabbering ini adalah RELA. Beberapa orang RELA untuk menjalani hidup “biasa” dan “main aman”, beberapa orang lainnya tidak dan mengejar idealismenya sendiri-sendiri. Sebagaimana saya RELA untuk menunda kelulusan oleh karena faktor-faktor di atas. Tidak pernah ada yang salah dalam setiap pilihan, karena apapun itu, selama kita bisa bertanggungjawab, setiap orang DILARANG untuk MELARANG (kata-kata Chipeng Begundal Lowokwaru).

Terima kasih sudah membaca, akan saya sambung di part 3 kalau saya sudah lulus.

 

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements