Tulisan ini tentu bukan curhat, tetapi hanya sebuah eksposisi dari seekor Homo sapiens yang sedang menginjak semester dua (digitnya). Mengamati apa yang terjadi pada teman-teman yang belum lulus (saya menyebutnya veteran seperjuangan) nyatanya memang menarik. Beberapa di antara mereka memang terkesan “malas” mengerjakan skripsi, tetapi saya memandang lebih banyak hal lain yang mempengaruhi performa diri mereka dalam dunia mahasiswa ini.

*STATUS SAYA*

Kolom komentar:

“Komen ae, gak lulus-lulus.”

“Lulus’o disek, baru nulis macem-macem.”

“Idealis tok, tapi gak lulus-lulus.”

Dongkol hati saya waktu mendengar setiap argumen panjang lebar yang saya usahakan selogis mungkin seperti anjuran dokter kakanda mas Aristoteles “hanya” dibalas dengan kata-kata “Kapan lulus?” Sedongkol hati saya waktu melihat mantan teman perempuan saya berciuman persis di depan mata saya. Ehem, ah, dunia memang tak seindah karung (goni) Syahrini yang kalau dijual mungkin bisa beli Roland Juno DS (keyboard keren).

Oke, serius ya. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, saya adalah seorang mahasiswa (sangat) tua di kampus. Menyebut semester rasanya kurang pas saat faktanya angkatan saya hanya tinggal beberapa ekor saja. Ok, skip masalah semester berapa saya sekarang. Intinya adalah, saya molor skripsi dan belum lulus-lulus. Sudah? Ya, itu faktanya. Lalu apa selanjutnya?

Selanjutnya adalah tentu kegelisahan dan sambatan saya, seperti biasa. Seperti yang sudah saya bilang tadi, betapa dongkol mata, hati, pikiran dan kemaluan urat nadi saya waktu segala argumen dan opini saya dalam sebuah diskusi hanya berujung pada pembahasan status “Kapan lulus?” Ini belum lagi jika ada embel-embel judgmental bin sindiran seperti, “Kamu itu gak lulus-lulus, debat aja”, atau “Lulus’o disek, baru diskusi”.  Yaelah, seperti kemampuan nalar hanya diukur dari gelar seseorang saja, kata hati saya kepada diri saya sendiri (soalnya kalau saya bilang gitu ke dia, nanti dibilang escape, pembelaan).

Ya Tuhan, demi nasi bakar Srawung, apa hubungan status “belum lulus” dengan “kualitas argumen”? Lebih jauh lagi, apakah yang belum punya degree atau belum lulus tidak boleh berargumen pada satu isu tertentu? Dari mana pola pikir seperti itu? Apa yang menyebabkan pola pikir seperti itu? Demi Amaterasu, tentunya ini tidak adil bagi saya dan ratusan ribu bahkan jutaan orang Indonesia yang tidak punya gelar akademik bernama sarjana.

Meskipun tanpa riset yang mendalam, tentu hal seperti ini tidak bisa diterima. Selamanya, gelar tidak akan pernah menentukan kualitas omongan seseorang. Jika memang begitu, tentu Fahri Hamzah tidak akan senaif itu beropini bahwa pembubaran KPK adalah hal yang “keren” (dalam versinya). Jika memang itu benar, tentunya Zakir Naik yang notabene lulusan dokter bedah (maaf, dia bukan sarjana teologi) tidak semena-mena bilang bahwa Homo sapiens sudah punah lebih dari 500 Juta tahun yang lalu berikut nama-nama fiktif macam Keltropos sampai Sir Whitemeat. Jika itu memang benar, tentu tidak akan ada opini sebagus Tifatul Sembiring, saya yakin lulusan sarjana juga, yang bilang AIDS adalah tentang “Akibat Itunya Ditaruh Sembarangan”, considering kalau penyebab AIDS tidak selamanya tentang seks bergantian. Ah mungkin saya yang salah karena saya hanyalah lulusan SMA, sekarang.

Maksud saya adalah, sudahlah, setop mengukur omongan seseorang dari gelar atau kedudukannya. Kita sudah selayaknya melihat kualitas omongan dari “apa” yang dia sampaikan, instead of “siapa” dia. Jangan sampai kita melakukan berbagai cacat logika dan bias komfirmasi hanya dari siapa yang berbicara. Sudah saatnya kita harus bilang bahwa “2+2=5” itu salah meskipun yang bilang sekelas Raisa, Isyana, ataupun “Imam Besar” HRS (bukan merk senar gitar). Fokuslah pada apa yang disampaikan berikut konteksnya, itu kata kunci yang tepat dalam mengakhiri essay apologia ini.

Tetapi, bila nantinya ada kasus seperti yang sering saya alami di atas, maka sekali-kali anda harus menampar (otak) orang tersebut dengan buku karangan McInerny berjudul Being Logical, A Guide To Good Thinking atau membukakan Mbah Google dan mencari definisi Ad Hominem atau Appeal to Authority.

Ah, gila, ternyata tulisan saya yang hanya lulusan SMA ini panjang juga ya. Lanjut part 2 ya, kapan-kapan.

 

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements