Perputaran adalah hal yang wajib pada setiap kebudayaan di manapun ia berada. Tatkala banyak nilai yang terus berubah mengikuti zaman, mau tak mau setiap output-nya, dalam hal ini seni sebagai sebuah produk kebudayaan tidak boleh untuk tetap “diam” dan “berjalan di tempat”. Ia, kesenian sebagai produk, mau tak mau juga harus terus berubah, memperbarui dirinya sendiri sesuai keadaan dan relevansi akan sebuah era. Intinya, sebuah budaya tidak boleh menjadi “mapan”, dan harus terus-menerus berkembang dan dikembangkan oleh para seniman yang berkecimpung di dalamnya, khususnya, para seniman muda.

Tetapi juga, progresivitas yang dijunjung tinggi ini tentunya juga tidak boleh melupakan nilai-nilai luhur dan norma yang sudah ada dan patut dipertahankan sebagai batu pijakan. Dalam hal ini, peninjauan kembali atas apa yang telah ada dan terjadi, tentunya wajib adanya demi terjadinya sebuah evaluasi atas kebaruan itu sendiri. Jangan sampai, atas nama perubahan, nilai-nilai luhur yang telah dicetuskan sejak dulu memudar secara esensinya dan terlupakan oleh generasi penerus, yang dalam hal ini dipegang oleh para seniman muda.

Inilah yang sekiranya terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini, khususnya anak-anak mudanya. Sebagai penerus generasi, memang benar para generasi muda sekarang cenderung lebih futuristik dibandingkan sebelumnya. Apa yang mereka lakukan, pakai, dan kenakan, cenderung untuk mengejar apa yang mereka anggap “populer” dan “kekinian”. Semua yang serba instan dalam dunia yang semakin tidak jelas batasnya ini tentunya menimbulkan beberapa persoalan dan imbas.

Cahyadi Takariawan dalam sebuah artikelnya di Kompasiana pernah menulis beberapa hasil riset dan penelitian tentang tingkat pemahaman Pancasila di kalangan masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya adalah kisah 6 orang Calon Wakil Bupati (Cawabup) sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan tidak hafal akan Pancasila. Setelah itu, seorang kepala daerah yang juga tidak hafal terhadap Pancasila saat memimpin Upacara Hari Pahlawan tahun 2009 hingga kalangan role model macam artis yang juga ikut tidak hafal akan ideologi dasar negara ini. Selain itu, juga ada riset yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Lembaga Swadaya Masyarakat juga menunjukkan 40 (empat puluh) persen mahasiswa di Jawa Barat tidak hafal akan Pancasila. Sebuah angka yang cukup tinggi dan memprihatinkan mengingat status mereka sebagai mahasiswa.

Ini memprihatinkan, mengapa? Dalam taksonomi Bloom, “menghafal” masuk dalam kategori dasar dalam kerangka berpikir, yaitu “pengetahuan” (knowledge), lalu disusul memahami sebagai komprehensi, aplikasi, analisis, evaluasi dan sintesis. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa berharap seseorang untuk memahami Pancasila, sebagai ideologi dasar Indonesia jika pada titik awalnya, mengetahui saja ia sudah lemah? Lebih jauh lagi, bagaimana kita bisa berharap mereka mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari jika tahap “mengetahui” saja mereka masih sangat lemah? Hal ini, terjadi pada masyarakat Indonesia, menurut survei di atas.

Melalui sebuah hasil riset di atas, penulis merasakan anak-anak muda zaman sekarang cenderung lupa tentang “siapa” dan “apa” yang mereka lakukan. Mereka cenderung mengafirmasi apapun nilai-nilai baru yang ditemui demi mengejar kata-kata futuristik itu tadi. Apapun yang datang dan mengisi telinga mereka terima tanpa filter hingga menjadikan mereka sebuah “cangkir kosong” yang pasrah akan apa saja yang dituangkan kepada mereka: air atau racun, cuka atau gula, nila atau susu. Mereka lupa akan diri sendiri dan keberpihakkan mereka dalam kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti “siapa aku?”, “mengapa aku dibentuk seperti ini”, dan “apa yang sebenarnya aku lakukan” atau sesederhana 5W+1H sudah jarang sekali dipertanyakan. Dalam tahap ini, kebudayaan sebuah negara bisa berjalan di tempat dan kehilangan nilai-nilainya sendiri seperti yang penulis sampaikan di paragraf pertama dan kedua sebelumnya.

Ini akan jadi hal yang buruk tatkala terjadi pemanfaatan akan nilai-nilai yang beredar di Indonesia untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Seperti misalnya, pengatasnamaan Pancasila untuk pembredelan buku-buku beraliran kiri, pengatasnamaan sila pertama untuk supremasi satu atau beberapa golongan agama, hingga tindakan-tindakan amoral yang sebenarnya jauh sekali dari prinsip dasar ini, baik dari pemerintah maupun beberapa golongan. Dalam tahap lebih lanjut, ketidaktahuan ini mengakibatkan adanya sebuah pembohongan publik dan pembelokan sejarah yang diadakan demi sebuah kepentingan atas nama ideologi itu sendiri.

Itu semua, sedikit banyak adalah imbas dari ketidaktahuan akan masyarakat itu sendiri akan nilai dan norma yang ada di dalam kehidupan mereka. Ketidaktahuan ini sendiri, juga dikarenakan oleh budaya“mempertanyakan segalanya” yang semakin menurun di kalangan masyarakat itu sendiri, seperti yang telah penulis sampaikan di atas.

Di sinilah peran seniman muda hadir. Di saat banyak karya seni yang diciptakan sebagai hasil masturbasi ego dan keindahan belaka, karya seni akan kehilangan salah satu tugas utamanya: “menangkap realitas sosial di sekitarnya.” Di saat banyak kolega yang lupa akan hal-hal demikian, beberapa seniman muda merasa terpanggil untuk menyuarakan kegelisahan mereka atas kenyataan yang ada sebagai tanggung jawab seorang manusia untuk menggambarkan realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya, mengutip secara tidak langsung kata Anti-Tank dalam salah satu wawancara Warn!ng Magz. Mempertanyakan norma-norma, aturan, etika hingga mempertahankan kesemuanya itu akan lebih mudah dengan menggunakan karya seni yang selain berbicara tentang keindahan, juga bertugas memotret apa saja yang terjadi di sekitar manusia beserta kehidupannya.

Pada akhirnya, sebuah titik akhir bernama “solusi” diharapkan hadir untuk menawarkan sebuah alternatif wacana dalam menyikapi itu semua. Tentunya, solusi itupun juga akan dipertanyakan, didiskusikan, dan diperdebatkan kembali dengan kritik-kritik dan saran yang ada setelah karya tersebut dipublikasikan kepada khalayak ramai yang pada akhirnya membuat seniman tersebut menelurkan karya lain lagi sebagai respons atas reaksi khalayak atau seniman lain terhadap karya sebelumnya.

-KMPL-

 

Artikel ini merupakan hasil perbincangan penulis dengan Nauval Firdaus dari NoFlag Temple

Advertisements