Sempat pasang surut, hilang terdengar selama 2 tahun terakhir, Teniflopi tiba-tiba saja muncul dengan menelurkan sebuah album penuh bertajuk “Anomali Cinta” beberapa waktu lalu. Tanpa tedeng aling-aling, karya ini seakan menasbihkan Teniflopi yang semula dipandang sebagai grup spesialis festival menjadi sebuah grup independen dengan karya sendiri.

Lagi-lagi, warna Tani Maju sangat kentara di sana-sini musik Teniflopi. Dari sinkopasi, lirik, tema hingga instrumentasinya. Memang, ketika berbicara orkes di Malang, mau tidak mau kita harus menyebut Tani Maju sebagai pembawa “dosa terbesar” (baca: pionir) di genre tersebut. Tetapi khusus untuk Teniflopi, selain instrumen konvensional orkes, mereka menyertakan biola dan sharon untuk melengkapi musik mereka yang mereka labeli sebagai Etnik Pocong Gedhang (Pop Keroncong Reggae Dangdut).

Dibuka dengan lagu “Mars Teni”, Teniflopi seolah mengulangi sebuah “kewajiban tak tertulis” grup orkes untuk membuat sebuah lagu Mars sebagai penanda identitas masing-masing. Nuansa Reggae nusantara sangat kentara pada lagu satu ini, mengingatkan saya pada Tony Q Rastafara yang terlebih dahulu melakukannya dulu. Seperti yang saya duga, lirik lagu ini berisi tentang ajakan “bergoyang dan berdendang”, khas suasana happy-happy grup-grup orkes kebanyakan.

Lalu ada “Anomali Cinta”,yang saya duga akan dirilis sebagai single andalan album ini. Tak memungkiri, musik yang rancak khas Teniflopi disandingkan dengan lirik yang easygoing dan aransemen multigenre menjadikan lagu ini favorit PeTeni-sebutan fans Teniflopi. Terlihat dalam beberapa part, instrumen biola di sini agak rancu perannya sebagai lead atau sebagai ritmis saja.

“LGBT”, bukan lagu tentang homoseks atau lesbian, namun kependekan dari “Lagu Gembira Bersama Teni” bercerita tentang perasaan pantang menyerah dalam hidup-sebuah optimisme di tengah dunia yang memang selalu menyusahkan (setidaknya menurut mereka).

“THP (Tapi Hancurkan Perasaan)”, sebuah usaha Teniflopi membuat istilah baru saingan PHP yang mendunia seantero Indonesia Raya itu. Bercerita tentang pengalaman (pribadi sepertinya) putus cinta khas remaja-remaja. Khususnya, lagu ini mengambil sudut pandang lelaki kepada seorang perempuan.

Dibuka dengan kentrung dan alunan seruling, “Hutan” merupakan ajakan Teniflopi untuk menyayangi hutan. Ya, tema lingkungan, khususnya hutan, merupakan topik “wajib tak tertulis” nomor dua dalam pengkaryaan grup-grup orkes di Malang. Semoga saja topik-topik lingkungan seperti ini tidak hanya berakhir di album saja, tetapi secara konsisten dibawakan di setiap konser jika memang motivasi mereka adalah menyadarkan masyarakat luas.

“Syalalala” bertema sama dengan LGBT di atas, bercerita tentang mencoba gembira dan bersenang-senang di tengah cobaan dan himpitan duniawi yang gini-gini aja (mengutip tulisan di Abank Cafe, sebuah cafe lokal di sekitaran Mertojoyo). Tetap dengan lirik yang easygoing dan relatif dapat diterima “arek-arek kabeh” (sebutan saya pribadi untuk orang awam). Pada menit 04:41 terdapat seksi keroncong yang jadi element of surprise mereka saat keseluruhan lagu terdengar relatif nge-beat. Album inipun ditutup dengan trek “Kita Slalu Bersama”, sebuah trek dengan tema pertemanan yang memang seakan menjadi tema “aman” unit-unit semacam mereka.

Secara keseluruhan, album ini menawarkan sebuah alternatif musik yang “kelas”, membedakan Teniflopi dengan grup-grup orkes sejenis yang lebih raw dan slengekan. Tetapi untung saja, suasana “mahal” mereka tidak meninggalkan kewajiban tak tertulis lainnya dari sebuah grup orkes: Danceable. Meskipun dengan aransemen per instrumen yang terkesan “padat”, “ramai”, dan terkesan “rumit”, warna musik Teniflopi tetap bisa dibuat bergoyang. Dan untungnya, hasil mixing meeka kali ini lebih “rapi” dibanding apa Live session mereka di Soundcloud yang di-upload beberapa waktu lalu yang cenderung terlalu padat.

Untuk beberapa catatan, kesederhanaan lirik Teniflopi bisa berarti positif dan negatif bagi saya. Lirik-lirik easygoing, tanpa banyak pilihan kata seperti lagu-lagu di album ini mungkin akan sangat memorable untuk para audiens di kalangan remaja, mahasiswa semester awal hingga orang awam sekalipun. Ditambah juga, tema-tema yang dipilih juga merupakan tema universal seperti percintaan dan pertemanan-juga lingkungan bila mau dihitung.

Tetapi menurut saya, dengan warna musik “sekelas” itu, Teniflopi bisa menyandingkannya dengan eksplorasi diksi dalam lirik yang sedikit lebih dalam atau variatif lagi. Sebagai catatan, kata-kata “berdendang”, “bergoyang”, “menari” dan “bernyanyi” nyatanya sudah semakin jadi frase-frase agak klise yang dibawakan unit-unit orkes. Setidaknya, butuh usaha mengajak bergoyang lebih dari sekedar model persuasif kata-kata “Ayo, ke sinio, enak enak, wes talah.” Toh menurut saya, tidak ada salahnya juga mencoba diksi-diksi baru ke depannya karena musik mereka sendiri sudah terlihat “berkelas” dengan aransemen per instrumen yang “mendidik telinga”. Jika tidak pada semuanya, setidaknya pada beberapa lagu di album mereka yang mungkin akan jarang dibawakan live. Ini agar ketika orang membeli album tersebut, ada beberapa trek yang benar-benar membuat mereka “berpikir” di samping bergoyang ria.

Jika ternyata bisa menghibur sekaligus mengedukasi audiens secara musik dan juga lirik, why not?

 

-KMPL- (@randy_kempel)

 

Review ini dimuat di Srawungmedia dengan beberapa edit’an untuk penyesuaian.

Advertisements