Orkes crossover Etnik Pocong Gedhang (setidaknya menurut mereka seperti itu), Teniflopi baru saja merilis album penuh mereka bertajuk “Anomali Cinta”. Judul album ini sendiri diambil dari trek kedua album debut album mereka tersebut. Acara launching album ini bertempat di Kopilogi Malang tanggal 21 Mei 2017.

Dengan tatanan sound system yang cukup “tidak biasa”, menurut pandangan saya, acara ini dibuka sekitar pada pukul 19.30 (meskipun di poster tertulis 19.00). Nina Ayu, sebagai MC membuka acara dengan menyambut Dizzyhead sebagai band pembuka konser ini.

Sebagai pembuka, Dizzyhead tampil dengan format yang berbeda: akustik minimalis dengan gitar dan vokal saja. Entah mengapa saya merasa ada yang kurang dari presentasi mereka kali ini. Departemen melodi yang sengaja diabsenkan mau tak mau mengurangi sentuhan Surf yang terdengar di karya rekaman mereka di Soundcloud. Apalagi dengan absennya bass dan drum, aransemen akustik yang dibawakan Dizzyhead kali ini menurut saya terasa biasa saja-kalau tidak “kurang mengena”. Memang, mengakustikkan sebuah komposisi elektrik sepertinya menjadi problem banyak band, khususnya di Malang sendiri.

Lalu dilanjutkan dengan Hankestra, band folk ini menghentak dengan single terbaru mereka, Krisis dan disusul dengan lagu baru Hankestra berjudul “Gelandangan” dengan warna yang cukup tidak terduga untuk dibawakan Hankestra: Funk. Terdengar rentetan-rentetan bassline funk dari Hamdan “Kucing” yang mungkin bagi beberapa orang yang sering menonton Hankestra adalah sebuah hal tak lazim-mengingat musik mereka yang cenderung ikut alur blues atau balada minim improvisasi bassline sebelumnya. Sempat ada kendala di sound system di beberapa kesempatan, sehingga terkadang ada jeda waktu yang kurang perlu di sela-sela penampilan.

Lalu malam inipun ditutup dengan penampilan si empunya acara, Teniflopi. Membawakan materi-materi lagu dalam album mereka, langganan juara festival band medio 2013-2014’an ini membuka konser dengan ucapan syukur dan terima kasih kepada pihak-pihak yang hadir di sana. Perform unit crossover yang sudah pernah tampil bersama Tri Utami ini dibagi menjadi 2 sesi, dengan di sela-sela sesi ada pembagian hadiah berupa merchandise dari Teniflopi kepada audiens, pihak sponsor dan juga Kopilogi sebagai penyedia tempat. Tidak lupa juga mereka mengucapkan belasungkawa atas kepergian musisi legendaris, Leo Kristi yang berpulang pada hari yang sama. Sebagai catatan, mereka sebelumnya pernah mengaransemen ulang lagu Leo Kristi berjudul “Salam dari Desa” tahun 2015. Dan akhirnya, “Anomali Cinta” didapuk sebagai penutup konser yang mengejawantahkan Teniflopi sebagai salah satu unit dengan warna musik menarik dari Malang.

-KMPL-

Tulisan ini dimuat di Srawungmedia

Advertisements