“Iku lho, band seng gitaris’e wedok”, “Wah, unik ya, kok bisa cewek kebayang pegang bass?”, “Unik sekali band ini, drummer-nya cewek”. Pernyataan-pernyataan tersebut di atas melahirkan sebuah pertanyaan di benak saya, “Memang apa istimewanya seorang cewek yang memegang instrumen dalam sebuah band?”

Okelah, mungkin kita bisa mengesampingkan instrumen seperti vokal dan keyboard dalam konteks ini. Vokalis wanita sudah ada sejak dahulu, yang bisa ditelaah dari zaman Opera hingga sekarang zamannya Ganja. Instrumen keyboard yang merupakan turunan dari piano dan organ juga masih bisa “diwajarkan” untuk dipegang oleh seorang wanita. Jarang ada kata-kata “Iku lho, seng keyboardist’e cewek” dsb. segencar kata-kata pada paragraf pertama-kecuali kalau ia adalah Pamela dari Duo Serigala, hehehe.

Seorang MC di acara-acara, mungkin karena saking kehabisan bahannya (atau memang tak mau riset atau memang saking kurang terkenalnya band yang tampil) hampir pasti menyentuh pertanyaan-pertanyaan di paragraf pertama saat menyambut sebuah band dengan fitur seperti di atas. “Ya, yang unik dari band ini, gitarisnya ternyata perempuan” dsb. seakan adalah kata-kata “pelarian” untuk mencari topik dalam membahas keunikan sebuah band.

Tetapi dengan segala kerendahan hati dan tidak bermaksud menyinggung kaum-kaum feminis garis keras yang kadang sama fasisnya dengan FPI, saya dengan lancang ingin berkomentar tentang fenomena ini. Memang kenapa kalau wanita memegang alat musik selain piano atau keybaord? Memang apa yang istimewa dengan wanita yang memegang alat musik? Memang apa korelasi gender dengan musikalitas? Saya rasa itu merupakan hal yang tak perlu dilebih-lebihkan, apapun alasannya.

Dengan era yang sangat terbuka ini, di mana distingsi hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki semakin tipis saja dalam berbagai hal, maka sekali-kali saya tidak setuju dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini. Memang apa yang salah kalau seorang cewek memegang gitar strato? Sejak kapan ada kredo gitar instrumen Lakik? Memang Leo Fender berpikir seperti itu tatkala mencipta Esquire-nya? Sekarang saja banyak wanita baik soloist maupun dalam band yang memegang instrumen berdawai tersebut. Sebut saja Mbak Dewi Ratna dan Mbak Winda Carmelita dengan ukulele imoet-nya, gitarisnya Closure, Octavia dari Heals dan belum lagi JP Milenix, Titi Sjuman dan banyak lagi di TV.

Mungkin, pada era-era dulu (1960-an ke bawah), saya bisa memaklumi kredo seperti itu. Maksudnya, di saat wanita adalah tentang makhluk yang ditakdirkan melayani lelaki (Bangsat kau Aristoteles!), hal-hal yang dipandang maskulin pada zamannya memang bukan dianggap sebagai ranah wanita yang menurut orang Jawa dulu tugasnya cuman 3: Macak, Manak, Masak; bukan untuk sekolah tinggi-tinggi apalagi band-band’an. Sekarang ini, mana ada cewek yang mau untuk sekedar berakhir di dapur saja tanpa pendidikan yang jelas dan idealisme yang diusungnya (setidaknya untuk masa muda mereka sebelum kembali lagi dalam genggaman standar sosial bernama “perkawinan”). Jika tidak, kampus semi konservatif macam kampus saya pasti tak akan kebanjiran para kaum Hawa di setiap tahunnya.

Namun sekali lagi, di saat kata emansipasi semakin kehilangan maknanya, saat feminisme bahkan malah bisa berakibat sebagai alienasi supremasi (beberapa) kaum wanita atas lelaki; yang mana sedikit banyak mencederai cita-cita awalnya sebagai ideologi “penyetaraan gender”, agaknya kita harus berpikir ulang atas prinsip-prinsip “keanehan” dan “keunikan” ini-pada batas tertentu. Tidak ada yang salah pada seorang Hawa yang memegang gitar Strato, sama dengan seorang cewek yang mengendarai Ninja 4 Tak hari-hari ini.

Terakhir, agaknya kita juga harus berpikir ulang dalam melabeli seorang musisi wanita. Instead of, “Gitaris wanita dari Band A”, bukankah lebih tepat jika kita menyebutnya sebagai “Gitaris (saja) dari band A”? Sebagai catatan, kata “Guitarist” tidak pernah berasal dari kata “Guitar-man” dan “Guitar-woman”,  berbeda dengan semakin tidak populernya kata “Policeman” dan “Policewoman” yang diganti dengan “Police Officer” yang lebih gender-neutral. Standar “keanehan” kita agaknya perlu dipertimbangkan lagi dalam melihat hal ini, tak terkecuali juga untuk menyadari bahwasannya kata Player, Violinist, Violist, Bassist, Trumpeter, Keyboardist, Organist hingga MUSICIAN sendiri adalah kata-kata yang gender-neutral dari dulu hingga sekarang.

Kesimpulannya, keistimewaan menjadi seorang instrumentalist dalam sebuah band tidak sepatutnya diukur dari jenis kelamin seseorang. Baik laki-laki atau perempuan, semuanya sama saja, tidak ada yang lebih tinggi ataupun istimewa, menurut saya.

Tetapi jika anda atau beberapa orang tetap tak setuju atas “pembiasaan” tersebut atas nama “Nilai Jual” dan “Bukti eksistensi Wanita atas Pria”, maka izinkan saya bertanya satu hal:

“Yang anda jual itu musik atau gender?”

-KMPL-

Advertisements