Saya terlebih dahulu tegaskan bahwasannya saya bukan grammar nazi. Dan sebenarnya saya berpandangan sah-sah saja mau membuat lirik setaek atau seindah apapun. Toh, itu merupakan hak prerogatif setiap musisi/band.

Tetapi, sebagai seorang mahasiswa sastra Inggris di sebuah Universitas negeri semi-konservatif (label yang saya simpulkan sendiri) pencetak guru yang cukup “ternama” di Malang-setidaknya menjadi juntrungan ratusan ribu peserta SBMPTN, mau tidak mau saya harus menulis ini (juga supaya terlihat pintar). Ya, penggunaan bahasa Inggris dalam lirik-lirik lagu band-band atau musisi Indonesia nyatanya bukan hal yang “wah” lagi, dari Koes Plus hingga God Bless nyatanya juga sudah melakukannya. Apapun alasannya, penggunaan lirik bahasa Inggris kadang menjadi menarik tatkala dipakai oleh seorang Non-Native Speaker, in this case, band Indonesia.

Beberapa hal yang menarik untuk ditelaah adalah motivasi penggunaannya. Ya, banyak alasan menggunakan bahasa Inggris dalam sebuah karya musik berlirik. Umumnya, kita mengamini bahwasannya bahasa inggris lebih muda diterima orang di luar Indonesia, apapun suku dan bangsanya. Mau tak mau harus diakui, secinta apapun saya terhadap Bahasa Indonesia, nyatanya daya tawar bahasa kita memang belum sebesar bahasa yang satu ini. Jangankan bahasa Inggris, bahasa kita saja agaknya masih harus angkat topi dengan oppa-oppa Korea dan Gangnam Style-nya PSY (sumber: konklusi pribadi).

Selain itu, ada beberapa alasan lagi, dari agar terkesan lebih keren hingga memang beberapa kosakata bahasa Inggris lebih bisa menyampaikan sebuah maksud lagu tersebut sendiri. Kebutuhan, adalah kata kuncinya, menurut saya.

Tetapi begini, apapun alasan dan motivasi penggunaannya, agaknya kita harus sedikit saja sadar diri, bahwasannya bahasa Inggris (dan bahasa lainnya) punya sebuah aturan baku bernama Grammar (seketika saya ingat buku Betty Azar). Aturan-aturan tersebut sudah disetujui dan dibakukan bahkan sebelum kita semua jadi satu di antara jutaan sperma yang seenaknya saja membuahi sel telur ibu kita. Dengan kata lain, mau tidak mau kita juga harus tahu dan mengerti “aturan-aturan” tersebut.

Contoh kasus, miris hati saya ketika mendengar kata “was” dan “be” ada dalam satu kalimat dan digunakan beriringan. Like, seriously? Dan, jika ini dilakukan oleh sebuah band independen atau underground (yang mana jarang ada yang peduli dengan aturan-aturan tersebut), saya mungkin masih bilang itu makruh, tapi bagaimana jika kalimat tersebut diutarakan oleh seorang solois favorit saya, Bondan Prakoso di lagunya “Not With Me” favorit anak-anak muda? (tidak menghitung progresi akord bridge yang saya curigai “dicuri” semena-mena dari lagu “Heaven” milik Bryan Adams) You know, melihat seorang Bondan Prakoso salah grammar kadang sama seperti  melihat Ahmad Dhani salah inversi, atau Afgan fals.

Ini juga saya lihat di beberapa karya musik band indie Malang. Terbaru, saya mendengarkan dan membaca lirik di liner notes Split album Revolt of Sand x Savana. Mendengarkan rapping dari Revolt of Sand memang kadang butuh membaca lirik; selain karena cepat, juga “tidak cukup jelas” (saya maklumi, makanannya pecel, bukan burger, mas Goldy..hihihi). Tetapi lagi-lagi, saya menemui banyak sekali grammar yang salah di album tersebut. Seperti semisal, “the story you’ve already know (seharusnya known), lalu “the trust you’ve been changed, you make it like a bullshit” yang maksudnya mungkin “kepercayaan yang kalian ubah menjadi kebusukan” seharusnya menjadi “ the trust you’ve changed” dan beberapa lainnya (TOLONG SUDAHI KELAS GRAMMAR INI!!!!). Selain Revolt of Sand, ada juga beberapa lirik Earth of Heaven, Coldiac sampai Atlesta  yang harus saya dengarkan berkali-kali untuk mengamini bahwa memang telah terjadi “kesalahpahaman tingkat linguistik” di sana sini.

Mungkin kita bisa bilang, “ah yang penting maksudnya ‘kan nyampek”. Tetapi, saya berpendapat, mau tidak mau, itu adalah bentuk tanggung jawab minimal kita terhadap sebuah bahasa, produk sosio-kultural. Dan terkadang, bahasa juga menunjukkan sebuah “kelas”. Inilah  mengapa saya bilang di awal, mungkin teman-teman kita di skena underground tak peduli setan dengan perkara grammar-grammar’an ini-karena beberapa juga malah menentang sistem “kelas” ini.

Tetapi, setidak formalnya sebuah kalimat dalam bahasa Inggris, mereka juga masih punya aturan yang berlaku. Sekeren-kerennya kata ain’t atau ye itu adalah kembangan dari grammar yang suah baku dan telah ada. Dan akhirnya, dengan segenap kerendahan hati, bolehlah saya memohon untuk sekedar memperbaiki penulisan lirik bahasa Inggris teman-teman sekalian?

Anggap saja, out of etchics, kita sudah “meminjam” bahasa Inggris, bahasa orang untuk “memperindah” karya anda, dan mungkin itu gratis, tetapi bila bahasa tersebut digunakan tanpa aturan yang berlaku, bukankah wajar bila rasa bersalah seharusnya wajib hadir dalam diri kita?

Oh, atau kita balik saja keadaanya, bagaimana bila seorang bule membuat lagu dengan kalimat “Kawin Perahu di dengan Lex dan Karin ”? Atau dengan seenaknya bilang “Membantu Ibu Budi Ayah dengan Bersama”. Pasti kita geleng-geleng kepada hingga tertawa terbahak-bahak akan kesalahan kosakata tersebut.

Pertanyaannya, Tidakkah mereka merasakan hal yang sama terhadap kita?

 

-KMPL-

Advertisements