Permainan kata-kata dalam puisi yang kehadirannya untuk sebuah estetika kini semakin menjadi klise dan banal saja (mengutip Efek Rumah Kaca).
Saat kata-kata bersifat “langsung” dan “lugas” seperti “Aku cinta kamu, kamu kok selingkuh” warisan 2005 ke atas dengan cengkok melayu khas Kangen Band dan Radja semakin ditinggalkan dan digantikan oleh frasa seperti “Pagi ini ada embun yang tersisa di pipimu” dan sebagainya-konotatif, kini justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Kata-kata andalan yang tergolong puitis seperti “bulan”, “senja” kini semakin semena-mena dipakai. Tidak ada lagi (lebih tepatnya kurang) sebuah kenikmatan mendengar alunan-alunan  tersebut tatkala mereka dipakai dalam setiap media: Mini-series Youtube, sinetron remaja di TV, hingga iklan Pop Mie. Sekarang, permainan merangkai diksi tersebut nyatanya telah menjadi budaya Pop setelah sebelumnya menjadi counter-culture, menurut saya.

Sekarang semua seakan berlomba membuat lirik, puisi, sajak yang seakan multitafsir (atau mungkin malah nirtafsir?) yang “hanya penulis dan Tuhan saja yang tahu maksudnya” atau bahkan, tidak berarti apa-apa sama sekali. Maksudnya, semakin ke sini, jukstaposisi kata-kata digunakan semakin “serampangan”, mengejar kesamaan rima dan kesan “yang penting indah”, “jarang dipakai” atau “tidak umum”. Semakin ke sini, gairah untuk menelusuri arti setiap kata seolah menurun drastis tatkala penggunaan kata “cahaya rembulan” dan “daun-daun berterbangan” sekedar digunakan untuk pelengkap sajak-sajak multitafsir (dan nirtafsir) tersebut.

Dan saya akhirnya lupa, kapan terakhir kali saya menikmati syair-syair karya Payung Teduh tatkala semua unit berlabel folk seakan berlomba-lomba se-abstrak mungkin merangkai huruf dan karakter?

Semua orang ingin jadi eksklusif dengan amunisi kata-kata bulan dan senja, kita mendadak menjadi penyair dan melabeli dirinya “indah” tatkala sudah lihai bermain-main dengan “malam” dan “rindu”. Kita sibuk menggurui orang lain dengan kekayaan jukstaposisi diksi dan eufemisme semu belaka.

Lantas, bagaimana? Tatkala kata-kata “senja” dan “rindu” tak lagi bermakna, tatkala “bulir air mata” dan “merekah senyumnya” hanya sebagai hiasan, tatkala “malam” dan “siang” hanya soal pelengkap, saat keindahan kata hanyalah target akhir sebuah puisi dan bukan aspek realitas yang dikerjar, maka mungkin, sesekali kita wajib membaca puisi di bawah ini:

Jangan/ Bilang/ Kontol.
(Pesan Seorang Ibu Kepada Putranya, Remy Sylado)

-KMPL-

Advertisements