Pada satu titik karir mereka, siapapun band atau musisi, pasti pernah ada dalam sebuah panggung intim, dengan ampli sebagai monitor sekaligus sound out, penonton yang berasal dari kalangan teman dan kerabat sendiri dengan jarak kurang dari titik “nyaman” standar rider performer dan penonton dan satu lagi, INTIM. Ya, sebuah panggung yang sering kita sebut gigs yang seakan-akan sudah bergeser namanya dari sebuah konser musik kecil menjadi sebuah sebutan pukul rata untuk semua konser musik (terutama yang diprakarsai produk tembakau).

      Meskipun gigs-gigs yang kecil tersebut-dan harusnya memang selalu kecil bisa saja dipandang sebagai sebuah panggung tak berkonsep, nyatanya banyak band yang menganggap gigs adalah titik awal perjalanan karier mereka. Sebuah band besar seperti The Cure hingga Motorhead juga berawal dari gigs kafe dan kampus. Sebelum mengenal mixer panggung dan sound berkekuatan ratusan ribu watt, nyatanya mereka juga sebenarnya pernah ada di lingkungan di mana penonton yang datang merupakan penonton yang benar-benar “ingin berada di situ” daripada sebuah rutinitas atau menjadi korban “pengekoran” nama besar yang mereka dapatkan di kemudian hari.

      Contoh kasusnya, saya akan lebih menghargai orang-orang yang ingin melihat satu orang The Morning After di gigs kecil Houten daripada melihat ratusan Homo sapiens datang menonton The Morning After yang “membuka” Payung Teduh. Ini adalah bukti kecil sebuah ketulusan dalam mengapresiasi, menurut saya. Pada kasus pertama, mereka yang datang adalah mereka yang benar-benar ingin melihat TMA, sedangkan yang kedua, saya ragu bahwa semuanya itu memang ingin melihat TMA ATAU, yang lebih buruk (dan bangsatnya seringkali terjadi) hanya ingin Payung Teduh-nya saja dan tak peduli setan dengan TMA.

      Maksud saya, acara-acara yang dilabeli “gigs” tersebut cenderung memuaskan penonton-dan sama sekali tidak ada yang salah dengan itu. Toh, mereka mengundang dan membayar (itupun saya ragu dengan harga pantas mereka) band-band Malang untuk “hanya” jadi pembuka di kotanya sendiri juga untuk mempromosikan produknya. Semua pada akhirnya jatuh pada satu kepentingan: Branding produk. Tidak ada yang salah dengan hal itu, bukankah menarik massa adalah tujuan utama kita mengundang penampil?

      Tetapi, setelah saya dengan sangat “sok tahu” mengamati dan menyimpulkan event-event di dalam maupun luar kampus, terutama yang disokong dengan budget besar, saya jadi berpikir satu hal,”Kapan terakhir kali kita memuaskan “penampil” daripada “penonton” kita?” Kapan kita berpikir untuk men-treat sebuah penampil atau musisi “lebih dari” sekedar “penggenap rundown” dan formalitas undangan dari kota/kalangan sendiri? Tentunya event-event seperti ini hanya bisa (setidaknya untuk saat ini) diwujudkan dalam bentuk kolektif, ataupun bermodal “keikhlasan” satu atau beberapa orang (Baca sejarah Java Jazz yang digagas Peter F. Gontha).

      Lalu yang terakhir, saya juga ingin mengembalikan arti kata gigs itu sendiri-dalam artian anak skena tentunya. Gigs sendiri yang kita artikan sebagai sebuah panggung intim minus jarak penonton dan performer, bukanlah sebuah acara besar branding produk tembakau dengan sound puluhan ribu watt. Persetan dengan definisi Oxford dan Merriam-Webster, tetapi untuk kasus ini, saya lebih suka bilang arti gigs sebenarnya adalah sebuah perhelatan kecil-kecilan ala Houtenhand atau Legipait yang intim. Tak ada sandiwara dan penonton bayaran, tak ada paksaan singalong, dan acara jaim untuk sekedar ikut moshing. Saya merindukan itu.

      Atau mungkin, kita memang harus membuatnya?

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements