TBSebuah luapan kegelisahan yang dikemas dengan ringkas dan terkesan “ringan” adalah satu frasa yang bisa mewakili album unit Drunkdut Melodic (setidaknya mereka menyebutnya seperti itu) ini.”

Sebenarnya agak telat juga untuk me-review album yang di-relaunch tahun lalu ini. Tapi tak apalah, toh menurut saya fenomena Tahu Brontak (TB), band yang survive selama lebih dari 10 tahun memang agaknya terlalu sayang untuk tidak diindahkan. Bukankah 10 tahun bukanlah sebuah waktu yang singkat untuk ukuran sebuah unit musik?

Ya, terlepas dari beberapa pandangan negatif mengenai mereka, ada yang menyebutnya copycat dari Tani Maju, argumen yang didasari dengan fakta bahwa format instrumentasi mereka yang memang “nge-plek” dengan Tani Maju (era “Casthole”, terutama). Ini juga ditambah dengan mereka sendiri yang buka-buka’an mengakui bahwa Tani Maju merupakan salah satu inspirasi terbesar mereka dalam membuat unit musik ini, baik secara umum maupun personal. Memang tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar dengan beberapa alasan perbedaan yang signifikan antara kedua band ini yang (mau tidak mau) akan saya jelaskan di akhir review ini.

Ok, lanjut, mari kita membahas to the point saja, here it is, Merendah Untuk Meroket.

  1. Mars TB

Seperti sudah menjadi hukum yang fardu ain untuk sebuah unit dengan format slengekan (atau biasa disebut orkes, sebuah kosakata yang sudah mengalami pergeseran makna tentunya) untuk membuat 1 lagu mars. Biasanya lagu ini memang digunakan untuk membuka show mereka, dibuktikan dengan musik menghentak yang mengangkat kaki penonton untuk berdiri.

Cukup jelas dari liriknya yang dengan tema “kebersamaan” dan “persaudaraan”. Apa lagi yang bisa saya komentari? Liriknya sudah cukup eksplisit bukan? Oh, ada satu lirik yang saya ingat, “Kami para pria anggur” (pasti anda semua sudah tahu maksud lirik ini).

  1. Cinta Tanpa Restu (Dinda)

Track beneran album ini dibuka dengan sebuah permasalahan yang cukup umum dalam kisah cinta sebuah pasangan: Cinta yang tak direstui. Tema lagu ini membuat saya ingat lagu Kangen Band “Penantian Yang Tertunda” (saya jelas, bukan fans mereka) & Kerispatih yang “Tentang Sebuah Kisah”. Tetap dengan lirik yang cukup denotatif, menunjukkan rasa cinta seorang pria kepada “dinda”nya meskipun tanpa restu. Untung saja mereka tidak membawanya lebih lanjut dengan menyisipkan lirik “ayo kawin lari”, hehehe.

Sudah jelas, tanpa restu di sini bisa diartikan oleh berbagai faktor. Jika mau menilik tentunya ketidakcocokan orang tua hingga mungkin menyentuh ranah personal seperti perbedaan kepercayaan. Who knows? Toh bukankah di Indonesia ini, perbedaan-perbedaan yang sebetulnya tidak perlu diperdebatkan malah seringkali dibesar-besarkan, bukan?

 

  1. Salah Sangka

Ini adalah track yang sebenarnya sangat “berat”. Namun lagi-lagi, karena ini adalah Tahu Brontak, maka “ringan” seakan menjadi nama tengah mereka. Ya, tema LGBT, yang secara spesifik mengangkat isu lesbian. Digambarkan dengan seorang sosok Cynthia, seorang lesbian “baru” (terlepas dari sudut pandang sains, agama maupun moral, saya tidak ingin berdebat masalah ini di sini) yang disukai oleh karakter protagonis lagu ini. Tetap, dengan sentuhan musik orkes mereka, jadi jatuhnya topik ini menjadi “agak jenaka”, meskipun menurut saya gampang tertebak.

 

  1. Alamku, Alammu

Ini juga merupakan sebuah track yang akhir-akhir ini saya pandang menjadi sebuah karya “wajib” bagi beberapa musisi. Jika saya menilik, banyak band independen Malang yang menciptakan lagu dengan tema “selamatkan hutan”. Dari orkes saja, ada Tani Maju dengan “Alam (Warisan Nusantara)”, Teni Flopi dengan “Hutan”. Saya tidak tahu, apakah lagu-lagu bertema alam ini memang diciptakan karena adanya “peraturan tak tertulis”, tuntutan seorang seniman atau ada hal lain yang memang menjadi “perjanjian tak kasat mata” antara mereka. Saya berharap membuat lagu tentang lingkungan jatuhnya tidak jadi “klise”.

Secara lirik dan musik, tidak ada hal yang terlalu “istimewa”. Malahan, menurut saya chorus lagu ini sudah cukup jelas (bahkan mungkin kelewat eksplisit) dengan berkata “Reboisasi”. Ini lengkap dengan aransemen musik yang dibumbui dengan sound recorder, menghadirkan suasana alam (Ah, saya jadi ingat Kos Atos “Salam Untuk Desa”).

 

  1. Pujangga Cinta

Lagu ini Diawali dengan bassline yang mengingatkan saya akan lagu Tani Maju yang berjudul “Cewek Sialan”. Tema yang diangkat rasanya tentang persaudaraan dan brotherhood. TB mengajak karakter yang ada di sini untuk melupakan masalah klise umat manusia, CINTA dengan berdendang dan, dengan “mabuk”. Ini dibuktikan dengan adanya lirik “…aroma stanley”.

 

  1. UKS (Umbul Kita Semua)

Lagu yang dibuka dengan aroma petikan chord minor yang mengingatkan saya pada “When the Children Cry” (White Lion) dan “Nothing Else Matters” (Metallica) dan juga “Balada Sejuta Wajah” (God Bless) ini langsung disambut dengan dentuman drum keras dan distorsi ganas khas patch Tahu Brontak yang “rusuh”.

Topik yang dibawa mereka kali ini adalah tentang lingkungan. Spesifiknya isu modernisasi yang berdampak pada hilangnya mata air desa. Mungkin berhubungan dengan judul “UKS (Umbul Kita Semua)”, lagu ini diciptakan untuk menyentil polemik pembangunan resort di sumber air Umbul Gemulo, Batu. Dengan lirik pembuka “Apa Jadinya…(tambahkan frasa di sini)” seakan menyiratkan bahwa lagu ini terinspirasi dari anthem suporter sepak bola. Bila anda suka menonton sepak bola, maka pasti mengerti maksud saya.

 

  1. Sabtu Malam

Sabtu Malam merupakan lagu tentang (lagi-lagi) pertemanan dan persaudaraan. Mungkin memang tema semacam ini adalah trademark TB, hehehe. Lirik-lirik yang dihadirkan menurut saya sudah cukup jelas. TB di sini juga memilih untuk menghadirkan “aransemen versi gitaran suka-suka” di awal dan lagu ini. Tidak tahu juga, mungkin untuk menunjukkan ke-easygoing’an mereka atau ada maksud untuk menunjukkan “sebuah proses kreatif”. Di akhir track ini juga akan ada catchphrase “Fesbuuk’an” yang mungkin memang sengaja digunakan sebagai pengantar ke track selanjutnya, “Fesbuuk”.

 

  1. Fesbuuk

Mengomentari perkembangan teknologi menurut TB adalah dengan menghadirkan salah satu platform terbesarnya: Facebook-meskipun ditulis dengan kata “Fesbuuk”. Secara musik, tetap khas lagu-lagu “agak keras” TB, “rusuh” dan “raw”. Menceritakan tentang urgensi untuk “pamer” status kebanyakan orang zaman sekarang. Dari patah hati, kegiatan terkini, hingga deklarasi hubungan yang diserahkan kepada teknologi adidaya bernama internet ini. Jika ditelaah lebih mendalam, mungkin TB berpikir untuk menyindir mereka-mereka yang seakan “butuh pengakuan” di jejaring sosial. Yah, siapa tahu saja, semoga setelah ini mereka tidak diserang fans-fans Awkarin, hehehe.

 

  1. Pengobral Cinta

Pola strumming awal lagu ini mengingatkan saya pada “Semut Hitam” milik God Bless. Yah, untungnya TB tidak punya seorang synth playerIf you know what I mean.

TB sedikit “menyentil” isu feminisme dengan lirik pembuka “sekarang zaman emansipasi wanita”. Tetapi mungkin dalam hal ini TB berada di pihak yang agak kontra, dibuktikan dengan image wanita di sini yang digambarkan “sama saja” dengan pria, juga berpotensi menjadi nakal, bermuka dua dan hal-hal lainnya yang biasanya diatribusikan kepada kaum adam. Tidak ada sesuatu yang terlalu menonjol di sini karena lirik mereka yang sudah lugas, menurut saya. Awalnya saya kira topik feminisme ini akan dibawa lebih jauh oleh TB. Nyatanya semua berakhir dengan sebatas “sambatan” berbasis pengalaman personal saja, mungkin.

Yah, setidaknya TB sudah berusaha menghadirkan sedikit makna emansipasi wanita dari sudut pandang mereka.

 

  1. Cinta KW

Track pamungkas, penutup show serta lagu pertama yang divideoklipkan oleh TB. Tahu Brontak mengkomparasikan konsep abstrak “cinta” dengan “barang KW” (barang tiruan). Mungkin ini adalah pengalaman personal dari mereka dalam mengarungi kehidupan asmara.

Bercerita tentang masalah yang cukup “kompleks”, setidaknya bagi mereka: Putus cinta, “ditikung teman”, galau, gagal move on. Masalah yang sebenarnya cukup umum dialami dari masyarakat biasa hingga selebriti layar kaca ini dibawakan mereka dari sudut pandang anak muda. Sehingga, lagu ini sepertinya memang cukup layak untuk menjadi lagu anthem orang-orang gagal move on (cc: Remaja-remaja labil dan anak-anak hits pengobral kemesraan)

Untuk lebih jelasnya, silahkan saksikan video klip mereka di channel Youtube TB, karena konsep visual dan jalan cerita mereka sepertinya sudah sangat jelas menggambarkan lagu ini secara keseluruhan.

 

Secara keseluruhan, saya berpendapat album ini agak monoton, dalam artian aransemen dan sound yang digunakan bisa ditebak dan “mirip” dari lagu satu ke lagu lainnya. Sampai-sampai saya sudah bisa menebak adanya sebuah “pakem” TB kala membuat lagu keras dan pelan. Seperti saat saya menangkap sebuah kemiripan antara “Cinta Tanpa Restu” dan “Pujangga Cinta”, pun saat saya merasa ada sebuah homogenitas warna dalam mendengarkan track “Fesbuuk”, “Mars TB”, “UKS” dan “Cinta KW”. Mungkinkah ini memang sebuah pakem yang sengaja dibuat TB agar dikenal menjadi trademark warna musik-nya? Saya secara pribadi juga tidak tahu.

Lalu, berdasarkan album ini, agaknya kita juga bisa membahas pendapat-pendapat bahwa TB merupakan peniru dari Tani Maju. Menurut saya, seperti sebelumnya di awal tulisan, ini ada benarnya. Instrumentasi seperti trompet tahun baru yang digunakan semena-mena mengingatkan saya akan lagu “Casthole” saat mas Novan (vokalis TM) masih muda dulu. Pun, tema-tema kekecewaan atas cinta, lingkungan dan kebersamaan adalah tema-tema yang sebetulnya sudah ada di katalog TM sebelumnya (dengarkan “Cewek Sialan”, “Alam (Warisan Nusantara)”, “Besar Hati” dan “Kuberlari” sebagai justifikasi pernyataan saya). Pun pola-pola instrumen sinkup beberapa instrumen juga bisa ditarik ke arah beberapa karya Tani Maju.

Namun saya juga tidak setuju bila TB semena-mena dibilang “hanya” sebagai peniru. Tidak. Ada beberapa perbedaan mendasar dari kedua unit ini. Satu, lirik-lirik TB cenderung lebih lugas dan eksplisit daripada TM yang cenderung lebih “banyak kosakata” (mungkin juga dikarenakan perbedaan background kedua band). Kedua, aransemen Tani Maju yang cenderung lebih kompleks dengan TB yang lebih “merakyat” dengan tambahan influence dari musik-musik dangdut pantura, sehingga TB kelihatan lebih “rusuh” dan benar-benar menyasar ke segmen akar rumput, sesuai label mereka (saya tidak tahu apakah masih), Grassroot Revolt. Ketiga, sound gitar dan drum TB yang menurut saya kelihatan lebih “gahar” daripada Tani Maju. Ini juga ditambah denga style masing-masing gitaris yang berbeda, di mana saya mencium aroma shred dan Dream Theater pada style Abid Tahu Brontak, sedangkan mas Joni Tani Maju sendiri lebih minimalis dan cenderung bermain pola. Beberapa perbedaan yang signifikan tersebut mungkin bisa jadi bahan renungan untuk individu-individu yang masih keukeuh menyama-nyamakan TB dengan TM. Agaknya, “terinspirasi” bisa jadi kata yang lebih tepat ke depannya.

Terakhir, satu hal yang saya tunggu secara pribadi adalah bagaimana keberlanjutan karya-karya tentang isu sosial yang ada di album ini dibawakan. Mungkin masalah Umbul Gemulo untuk saat ini tidak lagi sekencang dulu (bila dibandingkan fenomena Young Lex, hehehe), tetapi masih ada topik seperti LGBT di lagu “Salah Sangka” yang, mungkin bagi sebagian orang seperti saya menjadi satu tanda tanya besar bagaimana sebenarnya mereka, sebagai seorang seniman sendiri memandang isu ini di luar konteks “jenaka” lagu tersebut. Lalu single terbaru mereka “Egaliter” yang seakan semakin memperjelas bahwa TB bukan hanya soal band “goyang badan” saja.

Ya, untuk sekedar “menggoyangkan badan”, Tahu Brontak sudah punya semua, namun untuk “menggoyang pikiran”? Agaknya penantian adalah hal yang pantas untuk diberikan.

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements