Perpaduan eklektis antara instrumentasi Linkin Park, attitude Rage Against the Machine, sinisme Limp Bizkit dan optimisme Bondan Prakoso ft. Fade 2 Black.”

Begini, saya gak tahu juga sih sebenarnya R.O.S itu apa dan bagaimana selain sebuah band pengusung musik Nu Metal dan Rap Metal, tetapi tidak sampai kepada sisi filosofis makna mereka sendiri (yang belakangan baru saya ketahui diambil dari filosofi pasir yang semakin digenggam semakin lepas). Ketika saya melihat label “Socio-rebellion” yang mereka usung (mengingatkan saya pada RATM, jelasnya) dan mencoba stalking di page Reverbnation mereka, justru yang saya temui adalah lagu-lagu bertemakan “optimisme”-meskipun dengan gelapnya nuansa Limp Bizkit dan beberapa part stutter. I mean, where the fuck is the “rebel” part?

Tetapi satu paragraf di atas biarlah menjadi intro taek saya yang dulunya belum kenal dengan Goldy, salah satu rapper unit ini. Ya, kalau saya ngopi dengan mas Goldy, entah kenapa saya melihat ada kegelisahan yang disembunyikan dari mukanya. Dan akhirnya, setelah kami berbincang panjang lebar tentang keadaan sosial politik dan bahkan sampai “keimanan” di depan sanggar Opus 275, barulah saya ngeh dengan apa itu ROS dan tentu saja, siapa mas Goldy sebenarnya-yang pada akhirnya saya ketahui ternyata uneg-unegnya kurang lebih sama dengan saya dan sangat berpotensi untuk menjadi the most hated person around.

Revolt of Sand, beranggotakan “banyak” orang. Ada Gol’conda  “Goldy” dan Raggil sebagai dua vokalis yang merangkap rapper, Agung di drum, Dhiardana di gitar, Albertus keyboard, dan Fian Herya di bass dalam line-up mereka, juga ada Chunky yang untuk sekarang ini saya hanya bisa menyebutnya sebagai “additional tetap” R.O.S di posisi DJ. Seperti yang sudah saya bahas sekilas, band ini mengusung warna musik Hip Hop yang dicampurkan dengan Rock atau biasa disebut rap rock, rap metal atau Nu Metal, tergantung konteksnya, menurut saya. Padanan referensi untuk musik mereka saya kira dari Limp Bizkit, Linkin Park, Rage Against the Machine, Saint Loco hingga Bondan Prakoso ft. Fade 2 Black.

Pergerakan mereka sudah dimulai akhir-akhir ini, saat mereka mengeluarkan video isu dengan hashtag #ROSTalkShit di Instagram. Di sini, mereka membuat sentilan-sentilan mengenai apa-apa saja isu yang lagi happening maupun yang sudah “terlupakan” di Indonesia. Topik-topik sensitif seperti “yang mulia, panutan” Habib Rizieq hingga komentar akan anak muda yang cenderung mengalienasi diri mereka dari society. Rencananya, video ini akan dibuat secara rutin seiring dengan kegiatan pengkaryaan mereka yang juga berjalan. Ya, kita tinggal menunggu saja seberapa lama kaum-kaum Homo sapiens bersumbu pendek akan menyerang mereka nantinya, hehehe.

Tidak banyak unit musik yang berani membawa ranah kritik sosial ke dalam branding musiknya-setidaknya menurut sepengamatan saya. Jika adapun, mereka tidak membuatnya “accessible” kepada kuping orang-orang awam, dalam hal warna musik terutama. Beberapa panutan tentu saja Rage Against the Machine, Iwan Fals, Efek Rumah Kaca, lalu kalau di Malang sendiri ada Tahu Brontak (meski lagu-lagu sosial itu kalah tenar dengan Cinta KW atau Facebook mereka) dan Iksan Skuter. Memang, membuat sebuah unit musik untuk menciptakan pergerakan merupakan tantangan tersendiri bila melihat kondisi masyarakat kita yang masih suka terhasut isu hoax ini. Menjadi public enemy-pun memang seharusnya sudah ada di benak mereka saat memutuskan menjadi band demikian.

Pada paragraf 1, saya bilang meski optimisme merupakan bagian dari mereka juga, tetapi, pada rilisan terbaru mereka, split album bersama Savana yang diberi judul “Eternal Sporadic”, mereka sudah berani menunjukkan sisi fucked up society seperti yang ditampilkan di #ROSTalkShit mereka tersebut. Dengarkan saja Parasite of Nation dan Rebellion Land di split album tersebut, dan lihatlah sendiri berbagai kemarahan mereka pada setiap kata dalam lirik-lirik mereka. Jika anda ingin membeli karya mereka (tuku o rek, mok kiro kene anggota DPR duwit’e akeh gawe nyetak album?) bisa mengontak CP di bawah artikel ini, atau bisa juga langsung ke Circle Records di Griyashanta H 303 Malang.

Akhir kata, society akan selalu menarik untuk dibicarakan. Konflik kebijakan dan kepentingan sudah pasti jadi santapan intelektual perubahan, dan salah satu tugas seniman adalah mewujudkan semua kegelisahan itu dalam setiap karya yang dihasilkan. Kita tunggu saja, apakah R.O.S akan membawa “pemberontakan” ini ke ranah publik, ataukah tetap stay dan memilih jalur underground sebagai basis pergerakannya.

Apapun itu, bukankah sebuah alternatif penalaran pasti akan selalu dibutuhkan bagi orang-orang yang sudah muak dengan homogenitas pemikiran?

-KMPL- (@randy_kempel)

IG           : @revoltofsand

CP          : 0878 3816 3642

 

(Artikel ini dimuat di Peka_ zine edisi 6IMG_3059.JPG)

Advertisements