Saat melihat poster acara ini di IG, saya jadi teringat dengan obrolan kecil saya dengan mas Gege (Good Boy Jimmy) masalah pemasaran di AA studio waktu band saya rekaman di situ. Saat itu kami bicara masalah sebuah dilema band-band di kampus saya dan juga, pengalaman pribadi saya sendiri waktu band-band’an dulu. Dilema itu bernama, “Setelah punya karya, lalu diapakan?

Ya, mungkin banyak orang-orang seperti saya dulu yang band-band’an hanya memandang menghasilkan karya. Toh, memang tidak salah juga. Mas Iksan Skuter kemarin juga bilang bahwa bila tugas petani itu mencangkul, maka tugas musisi adalah berkarya. Tetapi, pada zaman sekarang ini, di mana setiap orang bisa dengan mudah belajar memainkan chord AMajor7#9 tanpa perlu belajar ke satu suhu atau yang lainnya, agaknya sangat sulit untuk berhenti di titik, “Aku duwe lagu lho. Wes.”

Enggak, maksud saya begini, saat setiap orang berlomba-lomba menjadi musisi/ anak band atau apalah itu, dengan alasannya masing-masing; dapat cewek, terkenal, nganggur atau apapun itu,  dan akhirnya mempunyai produk bernama lagu/album, seringkali kita stuck pada sebuah titik yang saya sebut di atas. Permasalahan sebenarnya dari sebuah karya ternyata bukan selalu pada kualitas karyanya tetapi mau diapakan setelahnya. Pada era sekarang ini, tidak bisa dipungkiri bahwasannya kita tinggal bikin lagu, rilis, menunggu dicari, sudah. Tetapi, agaknya perlu ada tambahan lagi menjadi “bikin lagu, rilis, PASARKAN dan berkarya lagi yang lainnya.”

Kebetulan sekali, saat mas Iksan Skuter berada di Malang (yang mana mungkin agak langka sekarang), beliau mau berbagi pengalaman dengan khalayak ramai di Warung Srawung kemarin Sabtu, 18 Februari 2017. Sebuah oase tentunya mengingat mas Iksan Skuter adalah sebuah sosok yang menurut saya punya power dan kapasitas untuk berbicara masalah band-band’an ini mengingat track record beliau yang panjang dari menjadi gitaris Draf, Putih dan akhirnya bersolo karir, ke mana-mana, membuka konser Iwan Fals hingga menembus tampil di acara impian sejuta (ini hiperbola) band indie, “DCDC”.

Di samping Iksan Skuter, ada juga mas Erwin dari Portalmusikmalang sebagai perwakilan dari media. Mas Erwin yang seperti kita tahu namanya disinonimkan dengan Portalmusikmalang tentunya bisa memberikan beberapa petuah mengenai media online yang semakin ke sini semakin menjadi kunci pemasaran karya musisi. Lalu, ada mas Ega dari MFM yang memberikan sudut pandang mengenai radio serta perannya dalam pemasaran band itu sendiri. Dan yang juga penting, acara ini, gratis (kecuali kopinya Srawung tentunya).

Sesi talkshow dibuka dengan sharing pengalaman mas Iksan Skuter tentang pengalaman bermusiknya dulu hingga sekarang. Bagaimana beliau pernah stuck dalam sebuah titik “banyak karya, tapi gak terkenal-terkenal” hingga akhirnya memilih untuk hijrah ke Jakarta dan meneken kontrak dengan Major Label lalu merubah nama band-nya dari “Draf” menjadi “Putih”. Ya, sekedar informasi, mas Iksan Skuter dulunya adalah gitaris band yang mempunyai single-single hits panutan kawula muda di masanya seperti, “Sampai Mati” dan “Bersamamu”. Bila ingin mengetahui masa muda mas Iksan, bisa search di YouTube. Pasti ada.

Lalu dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai media online dari mas Erwin. Beliau mengatakan program Portalmusikmalang yang mengirimkan beberapa karya musisi Malang ke luar negeri. Juga, membuka mata kita bahwa ternyata media-media di Malang cukup terbuka dalam menerima press release musisi-musisi Malang dan siap ikut andil dalam perkembangan musik kota ini.

Selanjutnya ada mas Ega yang mewakili MFM bercerita tentang radio yang berperan penting dalam penyebaran musik-musik independen. Selain itu, juga sharing pengalaman tentang keadaan luar kota dan anak band juga. Oh ya, bagi yang belum tahu, mas Ega juga merupakan personel dari sebuah band cadas, Karat.

Pada dasarnya apa yang saya dapat dari acara ini adalah bagaimana kita (asumsikan saja saya juga anak band) tidak berhenti dalam titik “karya banyak”. Memang, banyaknya karya juga akhirnya menjadi sebuah track record untuk sebuah band atau musisi, tetapi lebih daripada itu, sudah sampai manakah karya-karya kita tersebut? Sudah sampaikah mereka ke telinga khalayak ramai atau paling tidak, target pasar masing-masing sekalian?

Lagi, jatuhnya kepada, “Sudah sejauh apa usaha-usaha penyampaian karya kita tersebut?” Apakah menggunakan cara-cara konvensional seperti “mbuat lagu, lalu menunggu job” seperti yang saya tulis sebelumnya. Atau, mencetak fisik CD kita untuk dijual seperti banyak band yang sudah menjalankannya. Setelah itu berleha-leha menunggu band kita dicari untuk live sembari manggung gratis’an untuk promo?

Jelas tidak. Di tengah tuntutan kepraktisan, kecepatan dan sesuatu yang adidaya bernama “internet” ini, agaknya cara-cara di atas makin lama makin dinomorduakan-bila tidak mau dibilang “ditinggalkan”. Saat ini, seperti mas Iksan bilang, nilai album fisik dalam bentuk CD tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan primer karya musik. Fisik CD sekarang, mungkin sudah terdegradasi maknanya dari “piala dan bukti pencapaian” menjadi salah satu media “penyampai karya” saja. Mau tidak mau ini harus diakui lho, setidaknya di Malang sendiri. Orang-orang yang mungkin bisa kita garansi untuk membeli rilisan fisik kita mungkin ada di lingkaran teman-teman, pengamat, komunitas atau yang kebetulan “sangat menggemari” band tersebut- dan itupun jumlahnya lebih sedikit dari orang yang sebenarnya bisa terjangkau (dijelaskan di paragraf bawah). Ini juga pernah disampaikan oleh mas Galih (Brigade 07) di sebuah acara talkshow. Intinya, ia dan banyak musisi juga merasakan dampak merosotnya penjualan fisik. Satu hal yang bisa ditempuh adalah membuat bundling produk album tersebut, misal dengan kaos atau merchandise lainnya.

Poinnya adalah, orang-orang awam yang saya sebut sebagai “swing voters”-masyarakat ramai yang jumlahnya lebih besar dari sasaran-sasaran komunitas dan lingkaran pertemanan (saya sering sebut mereka sebagai “pasar potensial kita sebenarnya”) kita itu tidak serta merta mau membeli sebuah rilisan fisik. Khalayak yang cenderung “belum tahu” atau “tertutup matanya” akan eksistensi band-band independen Malang ini mungkin lebih memilih untuk membuka Spotify atau Soundcloud. Atau bahkan, men-download lagu kita di Youtube lewat IDM. Itupun jika mereka tahu bahwa band/musisi itu “ada” (bisa dari pengalaman live perform atau peristiwa apapun itu).

Lalu pertanyaan yang timbul mungkin bukan lagi, “Mana karyamu?”, tetapi, “Sudah sampai telinga siapa karyamu itu?”

-KMPL- (@randy_kempel)

Advertisements