Menurut saya,…

1.Budaya PENTING MAIN.

Ini mungkin merupakan penyakit yang sering “diderita” oleh beberapa anak band-band’an, mindset seng penting main adalah sebuah pola pikir yang seharusnya agak diperbaiki. Menurut saya, band-band’an adalah tentang berkomunikasi dengan karya. Mau tak mau, ya harus ada persiapan untuk sebuah “presentasi karya” tersebut. Latihan sebelum manggung, siapkan alat dan performa terbaikmu agar orang-orang yang dijuluki “penonton” juga tahu kualitas kalian sebagai seorang anak band yang “beneran”. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah perform tanpa persiapan matang, bukan?

2.Siapkan dulu alatmu Bung!

Ini masih berhubungan dengan nomor 1, inti dari sebuah band-band’an tidak lain adalah alat musik itu sendiri. Persiapan atas alat-alat source suara ini adalah hukum yang fardu ain. WAJIB! Percuma efekmu harga 20 Juta tapi gitarmu gak in tune(mengutip Kipul), percuma performa dan aksi panggung nomor wahid tapi steman bassmu fals atau dandanan ciamik tapi suara fals.

Dan memang, sudah seharusnya alat musik adalah tanggung jawab setiap personel band, bukan tanggung jawab vendor maupun panitia. Tanggung jawab sound, alat dan tetek bengeknya itu memang sebuah kewajiban masing-masing pemain demi kualitas hiburan yang hakiki. Bila sudah punya Alhamdulilah, bila belum, lobby-lah seorang teman untuk meminjamkannya. Paling tidak, kita punya waktu untuk menyeting semuanya itu sebelum naik ke atas panggung-PERSIAPAN. Toh, kita tak bisa selalu berharap alat yang disediakan vendor selalu beres dan menurut keinginan kita bukan?

Ini juga memudahkan soundman yang menangani band kita. Saat alat dari masing-masing personel sudah beres, maka sound engineer hanya tinggal mengatasi yang out dengan menambahkan sedikit banyak ornamen untuk enhancing sound kita sendiri. Yah, itung-itung mengurangi pekerjaan soundman gitu.

3.Tepati Rundown

Ini adalah sebuah uneg-uneg untuk panitia dan band. Untuk panitia, ada baiknya benar-benar memanajemen waktu acara. Tepati rundown yang sudah dibahas saat Technical Meeting. Ini penting, karena mau tak mau ini menyangkut hajat hidup orang banyak terkadang. Bagaimana jika band yang anda undang ternyata sudah ada interview radio setelah acara anda? Bagaimana jika seorang musisi solo yang anda undang itu harus berangkat ke Surabaya untuk memenuhi undangan interview sebuah majalah pada malam hari ini? Bila ada band yang tidak menepati ketentuan ini, memang sepertinya sudah kewajiban sebuah kepanitiaan untuk tegas. Manajemen waktu ini agaknya perlu dan sangat wajib untuk diperhatikan.

Inipun juga berlaku kepada performer. Tepatilah rundown yang telah diberikan. Bila diberikan waktu 20 menit, ya maksimalkan 20 menit itu. Bila diberi waktu perform 2 lagu, ya sudah 2 lagu saja. Jangan nambah, jangan kurang, pas. Hal ini secara khusus saya tekankan pada sebuah acara yang “padat performer” atau banyak band yang tampil. Toh, tanggung jawab kita juga ‘kan untuk menghormati waktu perform band lain?

4.Visual, sudahkah?

Memang benar, band-band’an adalah tentang bermusik. Tetapi jangan lupa, saat kita berada di atas panggung, deretan chord CMaj7#9b13 kita itu tidak akan (terlalu) dipikir oleh penonton. What’s more appealing di sini adalah VISUAL band itu. Ya, mau tak mau ini adalah Show Business, selain berkarya musik, cara dan bagaimana kita mempresentasikan karya tersebut agaknya juga harus dipikir matang-matang demi kelancaran dan nama band kita sendiri.

Sudah sampai mana kita memikirkan aksi panggung? Sudah sejauh apa kita berdiskusi masalah tata letak instrumen dan personel? Kostum yang digunakan maupun gimmick gimmick khas band yang menunjang musikalitas progresi AMin7-D#dim9 kita itu? Lalu salam-salam dan ucapan terima kasih di acara tersebut dan hal-hal kecil tentang acara tersebut.

5.Sudah kenal dan cari teman baru?

Sudah kenal berapa orang baru dalam setiap gigs? Sudahkah menyalami atau sekedar berterima kasih kepada soundman vendor yang membantu kita tadi? Sudahkah kita berkenalan dengan band lain yang sepanggung dengan kita? Band-band’an terkadang adalah latihan berhubungan sosial sesama manusia. Toh, punya banyak teman juga tak dilarang di kitab suci bukan?

KMPL (@randy_kempel)

Advertisements