Kami bertiga sengaja MEROMBAK kriteria penilaian dari panitia pada H-1 kemarin”, itulah kata Anang Brotoseno, salah satu juri saat mengumumkan siapa saja juara UM FEST yang diadakan oleh Opus 275 21 November kemarin. “Bila ada yang ingin mempertanyakan segala keputusan juri, saya ada di depan pintu Sasana Budaya hingga acara berakhir,” tambah beliau. Selain mas Anang, ada mas Ryan Maxrust dan mas Djoni dari Tani Maju yang menjadi juri di festival tersebut.

Seperti yang kita tahu (atau malah tak ada yang tahu karena terlalu sibuk mikir IP, demo dan TA semester?) juara 1 UM Fest kemarin diraih oleh CSR dari Fakultas Sastra. Juara 2 oleh ArtPsiUM dari Fakultas Pendidikan Psikologi dan disusul oleh THE S.U.H.U dari Fakultas Ekonomi.

Ada yang menarik dari penyataan mas Anang di atas. Ada sebuah kata “perombakan”, berarti ada yang “diubah”, “direkonstruksi”. Setahu saya sendiri, kriteria penilaian yang diumumkan panitia pada awalnya adalah Skill, Aransemen, Artistik. Lalu pada saat pengumuman, mas Anang mengumumkan bahwa kriteria “dikerucutkan” menjadi Skill dan Performance (visual). Untuk itulah, penulis penasaran dan bertanya lebih lanjut kepada para juri, salah satunya mas Ryan Maxrust:

Sebelum’e kan skill, aransemen, artistik. Nah perombakan iku pun gak mengganti, hanya mengerucut, jadi cuma ada Skill (melodis, harmonis, ritmis) & performance (visual) soal’e aransemen iku ujung-ujungnya juga yang dinilai adalah outputnya, yo balik lagi skill musik,” jelas mas Ryan ke saya. Dia melanjutkan,” Jadi gak ada tuntutan ke peserta untuk merombak / mengubah musik dari lagu wajib, lak kan mending persis asli tapi melodis harmonis ritmis dapet, daripada dirombak abis-abis’an tapi malah gak bisa dinikmati, bahkan musik’e gak cocok sama vokalis’e.” Penulis menganggap dengan kata lain, titik berat ada pada “penyampaian” soul lagu itu sendiri daripada kerumitan aransemen dan diamini oleh mas Ryan.

 

csr 1

 

(Hanung dari CSR sebagai Juara UM Fest 2016, photo by: Yuris Savila @yurissavila)

Sejumlah anjuran dan saran dari juri untuk peserta festival antara lain memperhatikan “lagu wajib”. Selain itu, hendaknya secara aspek musik seperti nada dasar serta kesiapan panggung per band juga harus lebih diperhatikan. Dan yang utama, Output keluar’an bernama “Audio”.

Dibuka oleh penampilan One OK Rock Malang, Harmoniora, Rotan Dan Kayu, MonoHero dan Rumah Serem, meskipun berjalan agak molor dari jadwal semula, rangkaian acara berjalan relatif lancar hingga penampilan kelima band yang tampil mewakili fakultasnya masing-masing. Lalu, ditutup oleh penampilan home band Opus 275. Ke depannya, saya pribadi berharap gaung dan gema UM Fest bisa lebih “nyaring” di dalam maupun di luar kampus UM sendiri. Juga, diikuti oleh semua (8) fakultas yang ada di UM dan benar-benar di-support penuh oleh pihak rektorat baik dalam bentuk dana maupun publikasi dan tetek bengeknya.

All in all, UM Fest kemarin sukses membangkitkan kembali euforia dunia “perfestival’an” UM setelah “mati suri” selama 2 tahun kemarin, sekaligus sebagai ajang apresiasi band-band UM oleh para penduduk kampus “pendidik” ini. Dan jangan lupa, profesionalitas panitia Opus sendiri membuktikan bahwa label “UKM musik kampus UM” pada Opus 275 bukanlah isapan jempol belaka.

 

-KMPL-

Advertisements