Pujasera KPRI UM resmi ditutup kemarin akhir Januari. Keterangan yang ada bahwa ini dikarenakan habisnya kontrak UM dengan KPRI berupa Sewa Sebagian Lahan atau Lahan untuk Kantin Pujasera KPRI UM no. 2.5.50/UN32/RT/2016 pada 31 Desember 2016 kemarin. Yah, banyak yang menyesalkan penutupan ini, beropini bagaimana nasib orang-orang yang berkarir di dalam situ sampai memperhitungkan aspek sosio historis Pujas sendiri.

Saya pribadi punya banyak kenangan di sana. Kalau boleh sharing sedikit, jasa terbesar Pujas dalam karir mahasiswa saya adalah berkumpul dengan orang-orang sangar di dalamnya. Sangar di sini bisa dalam segala aspek: pemikiran, kesenian baik itu rupa, tari maupun musik, dan banyak lagi. Mengenal orang-orang “di luar” organisasi fakultas saya sendiri dan bersudut pandang menurut mereka-mereka yang dilabeli “tua”, “legend” atau apalah itu yang kadang terkesan peyoratif, menurut saya.

Spot favorit jelas di depan warung kopi Mbah No. Itu adalah jujugan wajib pagi hari orang-orang sangar tersebut. Kalau tahun 2012-2014-an ada di sebelah kiri dan jadi satu dengan warung pangsit, mulai tahun 2014 akhir sampai kemarin dirubuhkan pindah ke pojok kanan Pujas (sumber: ingatan saya). Layaknya sebuah “rumah”, orang-orang di dalamnya silih berganti datang dan pergi. Yah, memang seperti itu’kan hidup? (maafkan ke-so(k) sweet-an ini)

Mengutip lirik Rumah Serem, “Wong Ngombe Kopi iso nemu inspirasi”, Pujas sebagai tempat kongkow ini menelurkan banyak sekali ide-ide kreatif. Dari lingkungan seniman-seniman saja misalnya, tercipta ide-ide tata panggung, pentas musik, konsep event sampai pementasan dan pagelaran. Bahkan Dhianita, penulis yang sedang naik daun saat ini sekaligus alumni kampus ini berkata,”Skripsiku lahir di Pujas, bukan di Perpus.” Sebuah kontradiksi bukan? Khususnya bila kita mengatakan itu kepada para akademisi kampus yang mungkin mendewakan Perpustakaan sebagai “holy place” untuk labelling mahasiswa rajin dan cepat lulus. Tetapi, hei! Bukankah logika juga butuh logistik?

Itu baru beberapa contoh saja. Belum menghitung juga dengan lingkaran orang-orang di luar situ macam organisasi intra maupun ekstra kampus, dosen rendah hati yang mau membaur dengan khalayak proletar ini, guru, hingga pegawai kantoran yang ngopi di situ. Nyatanya, Pujasera adalah tempat di mana tak ada perbedaan kelas (Saya bukan Marxist); guru, dosen, mahasiswa semester (ke)akhir(an), sampai maba tak ada bedanya di situ.

2 tahun terakhir ini, intensitas saya ke Pujas berkurang drastis bila dibandingkan saat tahun 2013-2015 awal kemarin. Yah, sedikit banyak karena tuntutan lulus oleh orang tua dan lingkungan sosial. Sehingga, ketika ada wacana pembubaran Pujas ini, saya juga agak kaget, dan jelas sedikit banyak kecewa dengan hal ini. Ya gimana lagi? Biar bagaimanapun aspek sosio historis Pujas seperti pada paragraf pertama di atas sangat besar selama ini, menurut saya pribadi.

Ya tapi mau bagaimana lagi? Lha wong saya ini lho cuman mahasiswa. Tugas saya ‘kan cuman belajar, kuliah, pulang, lulus tepat waktu, kerja, kawin, mati. Bukannya jadi aktivis yang sok-sok’an mencacati kebijakan kampus ‘kan? Lha apa kabar IPK saya kalau saya sibuk ngurusin rektorat? Kalau akreditasi kampus turun, terus apalagi yang mau dibanggain sama kampus ini? Graca? UKT yang katanya humanis tapi di atas 5 juta per semester? Mungkin, Hehehe.

Pujas tutup. Titik. Mau bagaimana lagi? Bahkan tulisan inipun mungkin juga tak akan berpengaruh apa-apa selain mendeskripsikan sebuah peristiwa bernama “tutupnya saksi bisu rasa lapar mahasiswa UM”. Pun, uneg-uneg dan opini dari orang-orang di dalamnya, mungkin hanya jadi terpaan angin sepoi-sepoi terhadap pihak rektorat UM sendiri (dan selama ini memang hampir selalu seperti itu bukan?).

Yah, nanti adakalanya membicarakan Pujas UM berarti mengulang nostalgia waktu ngopi membahas pentas, perasaan juvenoia masa muda mengkritisi kebijakan kampus dan gedung rektorat yang gak jadi-jadi di sampingnya, hingga romansa picisan semester awal yang dilalui para pasangan mahasiswa semester awal. Obrolan receh yang berujung rasan-rasan teman satu organisasi hingga pembunuhan karakter satu atau dua individu oleh beberapa orang “miskin pengakuan”. Semua akan dirangkum seiring dengan hancurnya bongkahan keramik dan batu yang menyentuh tanah samping Poliklinik UM tersebut.

Akhir kata, Selamat tinggal omelet kesukaan, selamat tinggal nasgor keju, selamat tinggal tahu telor favorit. Terima kasih Pujas atas ide-ide, obrolan receh, dan secangkir kopi yang menemani saya dari maba hingga jadi pekerja. Bertemu dalam damailah bersama Gedung J dan Simpang Bogor 31 yang lebih dulu tiada.Pujas UM Last.jpg

(Pujas, last seen,  taken by @tuluskurniawanpp uploaded by @seputarum)

-KMPL-

Advertisements