Saat kita mempunyai sebuah band yang terbentuk dari kalangan mahasiswa, satu hal yang sudah pasti menjadi potensi untuk berpisahnya para personel dan/atau kru adalah saat satu atau beberapa dari mereka menghadapi “KELULUSAN”.

Tak bisa dipungkiri, tujuan utama kita membayar UKT yang semakin tahun angkanya semakin mendekati angka di atas 7 juta Rupiah pada setiap semester itu (meskipun tetap saja sedikit atau bahkan tak ada perubahan signifikan dalam hal fasilitas) memang agar kita mendapat selembar kertas bertuliskan nama kita ditambahi dengan embel-embel gelar di sampingnya. Memang, saat orang tua kita merelakan anak-anaknya merantau, tujuannya adalah agar kita mendapatkan pendidikan dan akhirnya pekerjaan yang layak pula nantinya-Bukan buat jadi Artist. Pun juga omongan-omongan tetangga bangsat dan bajingan yang seakan-akan menuntut kita untuk cepat lulus padahal juga tak berkontribusi apa-apa dalam kuliah kita kadang ada benarnya bila relevansinya adalah tentang tuntutan sosial akan menghidupi diri sendiri dan menjadi independen.

Imbasnya tentu kepada anak-anak band seperti kita ini. Mungkin anda atau saya bisa berkomitmen dan mencari celah agar band anda dan saya tetap ada, dan juga anda memang bersedia sepenuh hati stay dan bekerja di kota “rantau” hanya agar eksistensi dan pengkaryaan band yang sudah lama anda dirikan ini tetap ada. Tetapi, apakah kita bisa berharap personel lain berinsiatif yang sama? Apakah kita bisa berharap kepada orang lain, yang mempunyai hajat hidup masing-masing untuk berpikiran dan bertujuan sama dengan kita dalam menjalankan sebuah institusi atau keluarga bernama band? Itu semua di tengah apresiasi yang paling bagus adalah tepuk tangan dan beberapa kotak nasi tak peduli sebanyak apa sudah track record dan karya band selama ini.

Tentu saja tidak. Setiap orang butuh uang. Mereka tak bisa seidealis saya atau anda yang ingin terus band-band’an. Mereka selama ini menganggap band-band’an adalah tentang hobi sampingan dan sudah-seingin apapun sebenarnya mereka untuk serius. Titik. Tidak salah juga sebenarnya, setiap orang butuh “titik aman”-UANG. Untuk melanjutkan hidup, menikah, punya keturunan dan akhirnya pergi. Itu semua sudah dituliskan (atau mungkin dibentuk) oleh lingkungan sosial kita ini. Buat apa band-band’an? Buat apa ngeragati alat yang mahal kalau ujung-ujungnya manggung ya segitu-segitu aja? Mending jadi PNS saja ‘kan? Itu semua memang pemikiran yang realistis dan sama sekali tidak ada yang salah dalam hal itu. Dan sebagian besar orang bilang, “Itu pilihan masing-masing”.

RS Pesta Seni2014

Salah satu pilihan yang bisa diambil, bila ingin mempertahankan sebuah eksistensi “nama”, kita bisa melakukan “regenerasi”; mengganti personel lama dengan yang baru dengan tetap membawa jiwa dan musik band tersebut. Ini pernah dilakukan band Harmoniora dan Ciuk Crew asal Malang. Bila pada konteks internasional, kita jelas mengenal King Crimson yang mungkin bisa disinonimkan dengan Robert Fripp. Yang paling penting adalah, karya mereka tidak pernah mati dan terus ada meski dibawakan oleh orang-orang yang berbeda. Dan mungkin saja, tercipta sebuah karya aransemen baru dari lagu yang sama karena sudut pandang yang masuk tersebut.

Solusi lainnya, bila kebetulan anda beruntung mempunyai personel yang masih dan bisa stay di kota rantau adalah “pindah domisili”. Ini dilakukan Tani Maju. Band yang terkenal dengan lagu nyelenehnya berjudul Castol itu merupakan mahasiswa salah satu kampus di Malang dan telah bermusik sejak tahun 1999. Dari mereka menjadi mahasiswa hingga akhirnya harus lulus dan berkeluarga. Nah, demi menjaga keberadaan band yang sudah lama dibangun itu, setiap personel yang berasal dari luar kota Malang akhirnya memilih menetap dan bekerja di Malang. Iya, mereka bermusik sambil bekerja mencari nafkah. Sebuah bukti konsistensi akan band ini tentunya.

Tapi dua solusi di atas juga bukan sebuah solusi yang “mudah” untuk diaplikasikan dalam keperluan praktis band-band’an kampus. Kitapun juga harus agak membuka mata menyikapi masalah IDEALIS vs REALISTIS ini. Memang sih, sayang sekali bila band yang telah lama ada dan tumbuh bersama (maaf, klise) harus kandas di tengah jalan karena sebuah tuntutan kelulusan dan “hidup yang lebih baik”. Tetapi sekali lagi, namanya juga hidup, pasti ada sebuah dilema. Kalau tidak begitu, kita tak akan berkembang bukan? Toh, bila ternyata musik malah menyakiti diri dan sesama- dalam artian membuat rugi hidup kita, bukankah  itu salah satu tanda bahwa musik kita sudah jadi musik “haram? Bila saya mengutip kata-kata Gigih Praseta dari Goodboy Jimmy waktu saya berbincang bersama beliau.

Yah, kalau saya sendiri sih, jika band saya nanti memang harus bubar karena lulus dan “tertuntut lingkungan sosial”, ya yang penting saya dan kami semua sudah berusaha mengisi waktu dengan cerita atas karya-karya kami. Bukankah memang tugas kita untuk mengisi waktu-waktu yang ada sebelum tiada?

-KMPL-

Advertisements