CC.jpg

Agaknya tren mendirikan band dengan format “orkes” (kata yang sudah mengalami pergeseran makna dari sinonim sebuah “band” menjadi “unit musik dengan format informal, menggunakan satu atau lebih alat tradisional dan cenderung “merakyat”) lumayan santer akhir-akhir ini. Contohnya saja, di Malang ada Tani Maju dan The Thek Thek Thuk yang mewakili generasi “veteran”. Sedangkan Teni Flopi, Socikoclogi, Tahu Brontak dan  mungkin juga, Rumah Serem mewakili generasi new orkes dengan warna, jenis musik dan ciri khas mereka masing-masing. Kini, satu lagi unit musik orkes yang ikut bermain dalam ranah “band padat pemusik nan humor” ini bernama Ciuk Crew.

Didirikan tahun 2011 dengan nama Crew Cuk dan berasal dari unit kegiatan seni Laisos milik fakultas yang terkenal dengan skena “keras”-nya, FIS, awalnya unit ini beraliran Reggae, tetapi sekarang seperti yang sedikit diulas di atas, lebih ke arah orkes dangdut, meskipun masih ada pengaruh Reggae dan Ska. Dari nama saja, mungkin kita sudah bisa menerka bahwa orkes ini erat kaitannya dengan dunia “air kedamaian”-Ciu. Juga, dari lagu pertamanya yang berjudul Koleng yang langsung membahas tentang minuman tersebut. Yah, atau malahan, saya sendiri curiga jangan-jangan grup yang sekarang terdiri dari Ucup (Vokal), Risma (Vokal), Jaylani (Lead Guitar), Rio Salem (Rhythm Guitar), Nohan (Bass), Bastiar “Chakil” (Keys), Yusuf S. (Drum & Ketipung), dan Bayu (ecek-ecek) ini disepakati berubah namanya pada saat semua lagi “kubam”.

Secara musik, Ciuk Crew melabeli dirinya sebagai Old-School Pop Drunkdut. Berkaca pada kata “Old School” saja, saya pastinya mengira bahwa Ciuk Crew akan mengambil roots orkes jaman 70-80-an macam OM PSP atau PMR dari Jakarta. Ternyata tidak juga. Kata-kata Old-School dipilih sebagai pengingat “sejarah” pendiri band ini mula-mula dulu. Sedangkan kata Pop Drunkdut mengingatkan saya pada Tahu Brontak yang sama-sama berlabel “Drunkdut”, sebuah portmanteau antara “Drunk” (mabuk) dan “Dangdut”. Yah, secara kasat mata bisa diartikan musik dangdut pop untuk menemani orang “mabuk”- mungkin terinspirasi oleh OM Pengantar Minum Racun. Tak tahulah, mungkin saja itu hanya ucapan orang yang lagi high, hahahaha.

Sesuai label dangdut yang ada dalam musik mereka, anda akan menemukan beberapa instrumen wajib di sana; ketipung dan ecek-ecek yang melengkapi gitar, bass, keyboard, drum dan vokal. Corak musik mereka selama ini yang saya lihat di live show mereka cenderung ke arah orkes koplo; bila anda familiar mendengarkan lagu fenomenal Kanggo Riko, pasti sudah tahu seperti apa. Daripada ke arah orkes old-school Dangdut macam PMR, Ciuk Crew lebih ke arah Orkes Dangdut koplo ala Pantura idola bapak ibu di kampung halaman.

Seperti band orkes kebanyakan, kenikmatan menikmati karya-karya Ciuk Crew adalah saat menonton mereka live. Penampilan slengekan, cenderung apa adanya, tanpa formalitas bernama persiapan A-Z seakan mengisyaratkan masyarakat “akar rumput”. Tentunya, ada peraturan tak tertulis bernama “lepaskan label” bila ingin menikmati musik macam ini. Yah, tak peduli anda anak metal, anak reggae, baik poser maupun veteran; atau anak “kemarin sore”, semua tak ada bedanya bila sudah maju dan joget.

Yah, Ciuk Crew mampu menjadi “pembeda” di dalam persaingan musik “keras” yang selama ini diidentikkan denga Fakultas Ilmu Sosial UM. Juga, sebagai bukti bahwa anak-anak Metal, Hardcore dan Punk di sana juga nyatanya bisa terbius menjadi “Dangduters dadakan” di setiap live show Ciuk Crew. Apakah pada nantinya Ciuk Crew juga akan berkarya dengan ikut melibatkan asal fakultas mereka- yang identik dengan isu sosial, hukum dan politik; ataukah malah tetap teguh menjadi antitesis kata “serius”? Kita tunggu saja nanti.

-KMPL-            (@randy_kempel)

 

CP        : 089686521350 WA (Gie) / 085730158914 WA (Achil)

IG        : @ciukcrew

 

(Artikel ini dimuat pada Peka_ Zine edisi 5. Untuk Download pdf klik di sini)

 

Advertisements