(Sebelum saya dicacati sama para fundamentalis dan komposer “beneran”-setidaknya bila mereka melabelinya seperti itu, saya mau mengklarifikasi bahwa saya bicara ini dalam konteks band-band’an)

Saya sering dicurhati oleh teman-teman pemusik, terutama anak band. Banyak yang mengeluhkan mengapa satu atau beberapa teman satu band mereka suka, gitaris terutama (cenderung ke arah “maksa”) untuk mengisi part-part solo gitar dengan nge-shred yang njlimet dan bulilik-bulilik. Arah pembicaraan ini biasanya sampai kepada satu pertanyaan: Lalu yang bagaimana menjadi shredder yang baik itu?

Membicarakan hal ini mungkin akan sama dengan bicara tentang sound output yang baik itu yang seperti apa saat saya dan teman-teman berdiskusi masalah sound-sound’an dengan Wildan Ilmi dan Ryan Maxrust. Intinya, sesuai kebutuhan. Nah, kebutuhan sendiri itu apa? Apakah skill menentukan kebutuhan, atau kebutuhan dulu baru skill? Sebuah hal yang abu-abu tentunya bagi sebagian orang.

Tetapi karena ini pendapat saya, maka saya dengan tegas mengatakan definisi kebutuhan saya adalah mengikuti komposisi. Ya, mengikuti lagu dan segala aspek komponennya baik secara musik maupun liriknya. Contoh kecilnya, tidak mungkin ‘kan saya menyuruh gitaris saya mengisi sebuah lagu tentang cinta remaja bertempo 79 Bpm, dalam progresi A Major D Major E Major dengan isian Neoclassical “padat not sepertigadua” ala Randy Rhoads ataupun Yngwie? Itu jelas, akan “merusak” esensi lagu itu sendiri.

Hal ini sebenarnya sudah pernah dibahas oleh gitaris White Lion, Vito Bratta yang uniknya, juga salah satu shredder tahun 80-an yang paling dikagumi, bahkan sampai sekarang. Dia pernah bilang di majalah Kerrang! tahun 1989 :

vito-bratta.jpg

(Vito Bratta, from ayoweb.com)

I know a lot of bands who’ll write a song and their guitar players will say I’ve got to do a lead break here, I’ve got to let rip there. It’s an ego thing. When I write, I say well, the song will sound better if I have an acoustic here or a clear sounding guitar, maybe no lead. I think it’s really annoying when a melodic song is ruined by a guitar player blasting away, it grates on my nerves.”

 

Sangat tegas sekali bila kita mencerna kata-kata Vito Bratta tersebut. Bagaimana ia menyayangkan lagu yang bagus dan melodis “dirusak” hanya karena ego seorang gitaris yang ingin menunjukkan solo skillful bin kerennya. Bagaimana, seorang gitaris, hanya agar dirinya terlihat “mewah” dan “diakui” secara skill di panggung, meng-kompose solo yang sebenarnya “tidak sesuai kebutuhan” lagu.

Intinya, bermain sesuai porsi. Porsi itu yang bagaimana? Porsi yang mengikuti kebutuhan. Saya sendiri sebagai seorang instrumentalis selalu berpedoman bahwa setiap instrumen adalah media penyalur kebutuhan, bukan “pencipta” kebutuhan. Setiap instrumen musik adalah untuk memenuhi “penyampaian” dan ekspresi, bukan sebuah “sumber” ekspresi itu sendiri. Ringkasnya, ada sebuah “alasan” mengapa satu instrumen “ada” dalam sebuah band.

Saat saya membutuhkan 2 gitar dalam sebuah lagu saya, maka saya akan menggunakan 2 gitar tersebut. Jika saya merasa 1 gitar dan 1 keyboard sudah cukup untuk lagu lain, maka saya akan meniadakan bass, dan gitar satunya atau bahkan mungkin drum juga. Jika saya hanya butuh gitar dan bass, maka keyboard hanya akan saya gunakan seperlunya untuk mengisi ambience atau bahkan tidak ada sama sekali. Itu adalah cara-cara yang saya terapkan dalam band saya yang sekarang ini, dan setiap saya berproses.

Jadi, saat ada seorang gitaris yang tanya: Lho, aku lho pengen bulilik-bulilik, ‘kan percuma ilmu saya bertahun-tahun ini kalau cuman main 5 not per-bar, lalu buat apa saya susah-susah belajar ini itu biar cepet kayak Eddie Van Halen. Lalu apakah menjadi shredder dalam band itu salah?

Lho, enggak, enggak salah kok. Salah benar itu cuman kontinuum, gak ada salah absolut dan benar yang hakiki (kecuali sudah ada standarnya). Sebelum bicara masalah benar salah, kita harus menetapkan standar dulu. Standar dalam ocehan ini apa? Band-band’an ‘kan? Berarti ya batasan band-band’an saja.

Kembali lagi, band itu apa? Sebuah unit musik yang terbentuk atas dasar suka sama suka ‘kan? Atau sebuah paguyuban yang terbentuk untuk menghasilkan sesuatu bernama karya musik atau apapun itu. Intinya ‘kan band itu KOLEKTIF. Sebuah unit gabungan beberapa individu yang dinamai pemusik. Karena ini gabungan, ini adalah tentang kepentingan bersama, bukan satu atau dua individu di dalamnya. Makanya, saya berpendapat kalau kamu pengen belajar jadi sosialis, maka band-band’an-lah. Hahahaha.

Nah, kembali lagi sebagai instrumentalis, terutama sebagai gitaris. Kita seharusnya menyadari bahwa kita adalah part of something. Kita tidak bermain untuk diikuti, kita bermain untuk menjadikan sesuatu bersama. Saat kita menggunakan amunisi bulilik-bulilik kita di tempat yang salah, mungkin secara skill kita dapat kepuasan, tetapi secara sudut pandang penonton dan apresiator? Lalu tujuan dan esensi musik band tersebut sendiri?

Intinya, setiap hak kita dibatasi oleh hak orang lain dan, karena band-band’an adalah tentang kolektivisme, greater good. Greater good itu apa? Ya segalanya tentang band itu. Lagunya, image-nya, branding-nya. Paling dasar saja, warna musik atau paling tidak lagunya. Seperti yang saya bahas di part 1, kebutuhan. Saat semua personel dalam band merasa tidak membutuhkan solo panjang nan njlimet, lalu mengapa harus ada? Jika sebuah komposisi tidak memerlukan sebuah urutan arpeggio diminished dan augmented, lalu kenapa harus ada? Tentu akan sangat egois bila itu diadakan hanya agar nama kita masuk dalam majalah Gitarplus atau sebagainya itu.

Kecuali kita sudah melabeli band kita sendiri sebagai “band fusion”, maka sekali-kali kita juga harus paham porsi bermain ini. Bahkan dengan label fusion-pun, kita juga seharusnya sadar akan hal ini. Cory Henry tidak selalu bermain di Snarky Puppy, lalu Kirk Hammet juga tidak selalu solo cepat padahal ada di band bernama Metallica. Kalau kata Flea, “Space is good. Sometimes, less is more.”

Ditambah lagi, hari-hari ini tidak seperti 80’an, di mana shredder yang muncul ke permukaan masih segelintir saja. Lha sekarang? Berapa orang yang bisa main lebih cepat dari Yngwie? Banyak. Sangat banyak. Ini menjadi mindset banyak gitaris yang saya temui dalam perjalanan mengapresiasi musik saya dari SMP. Mengapa ada standar tak tertulis bahwa gitaris yang bagus adalah gitaris yang cepat? Apakah lalu mereka semua itu bisa bilang seenaknya bahwa The Edge U2 dan Paco de Lucia bukan gitaris hebat hanya karena mereka jarang masuk ke scale-scale harmonic minor tersebut?

Daripada meningkatkan skill yang hampir semua orang sudah punya, mengapa kita tidak melangkah satu kali lebih maju, misalnya, memperbaiki tone gitar kita, belajar sound proccessing yang baik dan (relatif) benar, membuat ciri khas kita sendiri di tengah stagnansi adu skill dan kecepatan. Banyak gitaris yang paham dan bisa scale Diminished dan Melodic Minor, tapi apakah juga lebih banyak dari gitaris tersebut yang tahu cara menghitung delay pada efek gitar? Atau paling tidak, jika argumen tandingan yang muncul adalah, Lha iki kan metal-metal’an­: Apakah kita, sebagai gitaris sudah bisa dan paham cara membedakan Tone, Gain dan Drive pada stompbox kita masing-masing?

 

IMG_6479

Atau, jika memang masih kebelet nge-shred, membuat proyek solo untuk memfasilitasi mimpi-mimpi kita tersebut? Saya yakin kok kita akan lebih dihargai dengan karya sendiri daripada merusak nama band dengan keinginan dan mimpi-mimpi kita. Tidak ada masalah, saya juga memahami bahwasannya skill yang tinggi tersebut tentu akan jadi such a waste bila dalam circle pertemanan band anda tidak seorangpun bisa memahaminya. Toh, ini ditambah juga dengan keleluasaan yang begitu besar mengingat proyek solo adalah tentang anda sendiri. Proses kreatif menjadi milik anda sepenuhnya. Jadi, meminimalisir individu yang tersakiti. Hehehehe.

Terakhir, bukankah lebih enak jika kita bisa bermain sesuai porsi? Toh seperti memasak sayur, kurang asin ya gak enak, kelebihan garampun juga gak nikmat. Yang PAS saja, gak kurang gak lebih. Menjadi seorang instrumentalis kadang bukan hanya tentang “bersuara”, tapi bagaimana juga kita bisa “diam”.

Toh, musik adalah kombinasi bunyi dan diam, bukan?

Lalu, saya akan memberikan kutipan dari The Edge, gitaris U2 untuk menutup ocehan saya ini:

“Notes actually do mean something. They have power. I think of notes as being expensive. You don’t just throw them around. I find the ones that do the best job and that’s what I use. I suppose I’m a minimalist instinctively. I don’t like to be inefficient if I can get away with it. Like on the end of “With or Without You“. My instinct was to go with something very simple. Everyone else said, “Nah, you can’t do that.” I won the argument and I still think it’s sort of brave, because the end of “With or Without You” could have been so much bigger, so much more of a climax, but there’s this power to it which I think is even more potent because it’s held back… ultimately I’m interested in music. I’m a musician. I’m not a gunslinger. That’s the difference between what I do and what a lot of guitar heroes do.”

—The Edge (1991)

 

Semoga bermanfaat dan saya jadi rasan-rasan.

Karena aku DIRASANI, maka aku ADA.

-KMPL-

Advertisements