Eearth-of-heaven-malang.jpg
Mendengarkan Earth of Heaven (EOH) seperti ada di sebuah dimensi luar angkasa. Apapun sebutannya, subgenre ambient rock,  space-rock, alternatif rock, atau apapun itu; nampaknya EOH memang ingin dilabeli dengan sebutan “Band luar angkasa”. Hal ini juga dapat diketahui dari artwork setiap albumnya.

Pertama kali mendengarkan EOH, tahun 2015 lalu, pertanyaan pertama yang muncul di benak saya adalah; “Siapa vokalisnya?” Maksud saya, sebelumnya saya sudah tahu kalau ini salah satu side project Bang Big Dick MBL, digarap dengan gitar ala Sugab dan drum-drum’an Wawan, tapi fakta bahwasannya vokalis EOH merupakan Bang Dick sendri, merupakan sebuah fakta yang, “membutuhkan waktu signifikan nan komprehensif” untuk diterima. (hehehehe, peace Bang Dick)

                Ok, let’s forget the flashy and unimportant introduction above, proyek ini awalnya “hanyalah” side-project yang digawangi oleh Dicky “Big Dick” yang lebih dikenal sebagai gitaris band My Beautiful Life, dan Wawan dari A Strong Boy sebagai drummernya- setidaknya seperti itulah yang disampaikan kepada saya saat ngobrol berdua di Pujasera UM. EOH sekarang beranggotakan Sugab (Better Than Before) lead guitar, Handoko (Hello Morning) di bass, Wawan (A Strong Boy) di drum dan Sakur pada synth. Sedangkan, Dicky sendiri memegang rhythm guitar dan vokal. Pada formasi Mk. I, lead guitar dan bassist masing-masing diisi oleh Yohanes dan Bio Swageri dari Craziest Hookiest. Alasan pembentukan side project ini selain sebagai wadah bermusik, juga media pembelajaran bagi masing-masing personelnya, menurut Big Dick.

Secara musikal, untuk menciptakan sebuah nuansa spacey, ada 2 hal yang menonjol pada komposisi-komposisi EOH; patch synth Sakur yang didesain sedemikian rupa demi menciptakan atmosfer ala imajinasi angkasa luar (setidaknya pada bayangan orang banyak) dan isian gitar Sugab juga didominasi oleh manipulasi efek delay dan reverb. Saya tidak menampik ada sebuah influence kental dari Angels & Airwaves, lalu kemegahan ala 30 Seconds to Mars. Tetapi juga ada nuansa dari Foo Fighters di sana-sini meski tidak secara eksplisit terlihat, menurut saya.

Secara lirik, patut dicatat bahwa semua lirik menggunakan bahasa inggris, yang (mungkin) mengisyaratkan bahwa sasaran pasar mereka tidak hanya di Indonesia, tetapi juga lintas negara. Tema-tema yang diangkat sebenarnya merupakan tema yang cukup umum- Cinta, fantasi dan lingkungan. Tetapi, mereka membawanya dengan metafora-metafora “luar angkasa” sehingga terkadang blur makna dan interpretasinya (toh, menurut saya interpretasi dan makna juga merupakan hak prerogatif penonton).

EOH sudah mempunyai 1 album bertajuk “Long Journey to the Earth” yang dirilis oleh The Paimo November tahun 2015 kemarin. Saat ini, EOH memang sengaja untuk “agak tenggelam”; ya, karena ide awal band ini merupakan sebuah side-project, EOH menikmati masa-masa “woles” mereka dikarenakan kesibukan masing-masing personelnya di band masing-masing. Tetapi diam-diam, mereka telah menyiapkan video klip dari single album kedua mereka “Paint the Night” yang dikonsep berkolaborasi dengan salah seorang solois favorit saya, Christabel Annora. Selain itu, EOH juga disibukkan dengan mematangkan konsep musik untuk album kedua yang katanya ingin lebih ke “alternatif”. That is, mengurangi porsi spacey mereka. Tetapi tetap, dengan tema dan pembawaan fantasiah luar angkasa mereka.

-KMPL-

 

IG                         : @earthofheaven

Soundcloud        : https://soundcloud.com/earth-of-heaven

 

(Artikel ini dimuat dalam Peka_ Zine edisi 4, untuk file .pdf Peka_ Klik di sini)

 

Advertisements