1“Whereas many kerontjong musicians are currently facing the regeneration issue and losing the ways to attract newer, younger audiences, Kos Atos presents itself as a music unit in its diminishing scene. Not to change the Kerontjong; but rather, as what the great late Paco de Lucia did to Flamenco, EXPAND it.”

Sejak kemunculannya yang pertama di tahun 2014, waktu itu sebagai guest star acara BEMFA Sastra, “Artsastival” (di mana juga panggung pertama band saya sendiri), penulis telah menaruh perhatian pada band ini. Apa yang mereka pikirkan dengan membuat sebuah band “Keroncong”, sebuah ungkapan semi peyoratif tentang jenis musik “kuno”, “ngantuk’i”, dan “khusus orang tua” dan membawanya ke dalam ranah band independen, berkarya sendiri?

Tidak, saya tahu bahwa band ini bukan sebuah band yang sembarangan. Sebelum terciptanya, saya telah “sedikit tahu” beberapa dari mereka, khususnya Vigil, di mana saya sempat memergoki dia main sape’ di Graha Cakrawala. Jadi, saya sudah tahu, band ini bukanlah sebuah “band sembarangan”- at least, pada nantinya. Ada sesuatu yang “segar” yang akan ditawarkan band ini. Dan itu benar.

      Kos Atos, Kumpulan Orang Seni depan mATOS menyinonimkan diri mereka dengan kata “keroncong”. Memang, saya melihat “bungkus” musik mereka adalah keroncong-terutama dari segi instrumentasi. Kombinasi cak, cuk, dan cello akan membawa kita ke musik-musik keroncong Gesang, Waljinah dan bintang-bintang keroncong Indonesia dengan nuansa rileks dan teduhnya- dan juga old-school, bila mengutip kata mas Iksan Skuter pada waktu launching album “Luta” kemarin.

Tetapi satu hal, Kos Atos merupakan sebuah band Keroncong “DAN PLUS-PLUS”. Iya, di saat paradigma musik keroncong yang “ngantuki”, “membosankan” sudah kadung tertanam sebagai mindset, Kos Atos dares to take its music to the edge, far away. Siapa yang berani menaruh sentuhan waltz ¾ di dalam sebuah komposisi musik keroncong? Atau sentuhan nuansa klasik violin di intro sebuah lagu seperti di lagu “Ingatku”, atau bahkan ber-ska dan berdangdut ria? Terutama di atas semuanya itu, adalah KARYA-KARYA MEREKA SENDIRI? Kos Atos. Mungkin hanya dan masih mereka.

Penulis secara pribadipun sangat menyukai band dengan musik adventurous seperti Kos Atos. Paling tidak, dalam album mereka kita sebagai apresiator tidak disuguhi nuansa yang sama terus menerus dan mendapat sesuatu untuk “belajar”. Eksplorasi lebih dengan menggunakan musik Keroncong sebagai “bungkusnya” membuat Kos Atos mempunyai daya tarik tersendiri bagi kalangan musik dan apresiator. Dalam hemat penulis, musik Kos Atos saya deskripsikan sebagai Progressive Keroncong dengan tendensi experimental dan crossover.

      Kos Atos baru saja merilis album pertama mereka pada tanggal 13 September 2016 kemarin. Pembuktian eksistensi mereka di dalam skena musik Indonesia dibuktikan saat mereka perform 8 komposisi dalam album Luta tersebut. Dibuka oleh Iksan Skuter dan dibantu oleh Malang Youth Orchestra serta Malang Ska Club, Kos Atos akhirnya menjajarkan namanya ke dalam musisi berkarya di Malang.

      Kos Atos yang sekarang beranggotakan Vigil (cajon), Mukti (vocal), Fajar Sandy (gitar), Eka (Cak), Risandy (Bass), Krisna (Cuk), Rizky “Helos” (Violin, pianika). Sedangkan posisi cello masih dimainkan oleh additional player (Dulunya diisi Safiq). Seperti beberapa band lain, Kos Atos sudah khatam dalam dunia “bongkar pasang” personel. Menurut album sleeve mereka, ada  Rive, Devi Ninda, Ardiansyah, Dika Alus, Dwi Rizky, Selly Amanda dan terakhir Safiq sebagai orang-orang yang pernah mewarnai perjalanan dan “Luta” (perjuangan) mereka, seperti nama album yang menjadi buah kerja keras mereka selama ini.

Sebagai penutup dari penulis, Kos Atos mungkin merupakan salah satu band paling “patriotik” di Malang sendiri. Lupakan mereka yang mencaci penggunaan lirik bahasa asing tetapi tetap main blues-blues’an, yang menuding musisi-musisi Indonesia tidak nasionalis tetapi mendewakan britpop, ataupun bigot-bigot pengutuk boyband Indonesia yang meniru Korea di TV tetapi koleksinya SuJu dan 2Ne1. Persetan dengan mereka semua. Kos Atos, tanpa melabeli diri mereka sebagai “band pelestari budaya Indonesia”, seakan langsung membungkam dan menunjukkan dengan jelas, “INILAH WARISAN ASLI INDONESIA, KERONCONG”.

-KMPL-

CP               : 089605718857/ 085252673586

IG                            : @kos_atos                                       YouTube                : Kos Atos (keyword)

 

(Artikel ini dimuat dalam Peka_ Zine edisi 3, untuk file .pdf Peka_ Klik di sini)

Advertisements