God Bless

(Sumber gambar: qubicle.id)

Nama God Bless, saat dengungkan pada konteks zaman sekarang adalah mungkin berarti tentang “band legendaris berusia 43 tahun”, “raksasa rock Indonesia”, “rambut keriting Ahmad Albar” dan “band milik gitaris serba bisa Ian Antono”. Tentu saja, lagu “Rumah Kita”, dan “Semut Hitam”.

Tetapi bicara tentang God Bless (sebenarnya) bukan hanya tentang trek fenomenal “Rumah Kita” yang melegenda itu. Juga tidak hanya intro synthesizer hasil interpretasi mentah “Jump” milik Van Halen  pada “Semut Hitam” dan juga  musikalisasi puisi “Panggung Sandiwara” milik Taufik Ismail. Lebih dari itu, God Bless adalah sebuah unit yang sudah ada sejak bapak ibu saya mungkin belum pernah bertatap mata. Jika tidak, ya tidak mungkin ‘kan dijuluki band legendaris-setidaknya salah satu alasannya.

Ya, sayang sekali God Bless memang lebih dikenal oleh khalayak ramai-setidaknya di lingkungan saya sendiri dari 2 track pertama di atas. Mungkin juga orang-orang tersebut, yang seumuran dengan saya juga tidak mau tahu atau sekedar malas untuk menelusuri jejak rekam God Bless lebih dalam daripada hits tahun 1988 itu. Bagaimana sebuah unit Rock yang didapuk pernah didapuk sebagai pembuka konser salah satu Unholy Trinity Rock Deep Purple di Jakarta ini pernah kehilangan 2 personelnya karena kecelakaan di awal karir mereka. Pun juga yang paling penting dalam pengkaryaan adalah 2 album sebelum Semut Hitam: God Bless dan Cermin. Yah, bicara tentang diskografi God Bless sepertinya bisa dimiripkan dengan nasib Genesis yang terbagi menjadi 2 era: Progresif era Peter Gabriel hingga Steve Hackett dan Pop era Phil Collins. Seorang fans bisa saja benci pada satu era dan suka pada era satunya.
Salah satu album yang sering dibicarakan adalah Cermin. Banyak artikel di internet, yang paling bisa dilihat tentu saja di Wikipedia Indonesia (yang mana keabsahannya terkadang juga diragukan) mengatakan album uini merupakan sebuah masterpiece dari God Bless secara artistik. Juga, ditambahkan, album ini adalah album yang “mendahului zamannya” di Indonesia; sebuah statement yang rancu juga melihat pada era itu, rock progresif justru sedang digempur oleh Punk Rock dan bahkan band-band sekelas ELP dan Yes sampai dijuluki dengan ungkapan peyoratif “Rock Dinosaur”. Tetapi, memang, mungkin saya sangat mengamini, terutama setelah melihat diskografi mereka SETELAH Cermin, bahwa album ini merupakan masterpiece mereka.

Sebagai penggemar berat Yes, ELP, King Crimson dan Genesis, tentunya telinga nakal saya ini sangat menikmati suguhan-suguhan lagu di album Cermin. Terutama 3 track: Musisi, Anak Adam dan Sodom Gomorah. Kalau saya membuka Spotify, 3 track itu ada dalam list lagu pertama yang saya dengarkan. Track Musisi, yang katanya merupakan track barometer pada festival rock di Indonesia tidak pernah berhenti membuat saya berdecak kagum dengan break instrumental di tengahnya yang mengingatkan saya akan style Keith Emerson. Juga, Sodom Gomorah dengan irama rock n’ roll dan rockabilly serta Talk Box milik Ian Antono. Dan tentu saja, Anak Adam; trek pamungkas yang saya curigai (terutama intro-nya) adalah sebagai usaha lanjut Abadi Soesman mengawinkan musik Rock dengan tradisi gamelan Bali setelah sebelumnya beliau melakukannya saat berada di Guruh Gypsy. Tak hanya itu, bentuk musik multi seksi yang membuat saya terus berdecak kagum dengan kepiawaian departemen melodi Abadi Soesman dan Ian Antono serta lirik “dakwah” (Iya, jika “Judi” dan lagu-lagu Soneta milik Rhoma Irama adalah dakwah dangdut, anak Adam merupakan lagu dakwah khalayak Rock). So far, Anak Adam merupakan salah satu lagu progresif paling saya sukai dari aspek lirik dan musikal. Satu-satunya yang bisa menandinginya mungkin “Close to the Edge” milik Yes atau “Firth of Fifth” punya Genesis.

Tetapi pada suatu hari, saya tidak menemukan album Cermin di Spotify. Saya bertanya-tanya, mengapa album ini dihapus oleh God Bless? Sebuah pertanyaan yang akhirnya terjawab setelah 3 hari kemudian saya membaca berita tentang usaha God Bless merekam ulang album Cermin tersebut dalam titel Cermin 7. Bisa dimaklumi juga sebenarnya, hal ini mungkin bertujuan untuk menghilangkan usaha komparasi akan versi lama dan versi baru yang nantinya keluar (tetapi tetap saja sangat mengecewakan bagi saya). Tetapi, sebagai seorang fans, mau tak mau saya juga harus menunggu dan juga penasaran akan jadi apa album reinterpretasi masterpiece mereka ini nanti. Tapi saya juga merasa was was. Apalagi setelah melihat performa mereka dalam membawakan materi-materi kelas berat mereka akhir-akhir ini yang dapat disaksikan di YouTube. Ke-ngos-ngos-an Ahmad Albar dalam part-part vokal Musisi (padahal telah mengalami pergantian kunci) dan Anak Adam saat konser ulang tahun mereka, tentunya membuat saya merasa sedikit pesimis akan hasil album ini nantinya. Memang, faktor usia tidak bisa membohongi kualitas fisik, bahkan Ian Gillan sampai Geddy Lee-pun juga merasakannya.

Dan akhirnya pada tanggal 27 Januari kemarin album tersebut keluar dan muncul di Spotify, tentunya anda semua sudah tahu, track mana saja yang saya dengarkan pertama kali. Ya, Musisi, Sodom Gomorah dan Anak Adam. Momen-momen saya memencet tombol play juga diiringi dengan perasaan was-was setengah pasrah. Alkisah, track “Musisi” menjadi track pertama yang saya hakimi atau kalau kata Pink Floyd pada salah satu track “The Wall”:The Trial.

Intro bass Donny Fattah seperti biasa membuka lagu ini, hingga pada beberapa bar masuk gitar dan akhirnya full band yang, tidak mengejutkan, sengaja dimodulasi seperti konser ulang tahun mereka yang mungkin dihadirkan untuk memfasilitasi vokal Ahmad Albar-dan mungkin juga tuntutan membawakannya secara live. Tidak ada masalah, saya bisa memakluminya. Ini juga terlihat oleh beberapa part vokal tinggi Ahmad Albar juga di-handle oleh paduan suara. Untung saja, break instrumental favorit saya tidak hilang dan sama bertenaganya, sama ruwetnya dan sama njlimetnya dengan yang asli. Bahkan, part-part Teddy Sujaya diinterpretasi ulang oleh Fajar Satritama menjadi lebih mendekati Rush dan Dream Theater lengkap dengan Double Pedal dan Sound yang lebih kekinian. Amanlah, kalau Musisi ini menurut saya.

Sodom Gomorah, track kedua pada penghakiman saya ini sedikit berbeda dengan yang asli. Pada track aslinya, ada sebuah fade in Synth seperti Tarkus milik ELP, di versi album ini tidak ada. Tetapi tentu saja yang saya tunggu dari track ini adalah intro drumnya. Ya, sekali lagi, part drum lagu ini direka ulang oleh Fajar dengan sound kekinian dan ketukan-ketukan khas Rush dan DT sehingga terkesan lebih mantap. Hingga Intro gitar masuk, meskipun terkesan sedikit diminimaliskan, amanlah. Tetapi, sekali lagi, untuk pemakluman akan vokal Ahmad Albar, kunci lagu ini harus diubah dari yang asli. Satu hal yang menjadi perbedaan mendasar versi baru ini adalah hilangnya talkbox Ian Antono. Mungkin ini dilakukan untuk beradaptasi dengan konteks terkini (Yah, tidak seliar dulu tak apalah). Jangan lupa, outro lagu ini juga mengingatkan saya pada outro komposisi-komposisi Rush, terutama YYZ.

Lalu akhirnya sampai juga pada saat penghakiman “Anak Adam”. Intro synth dan Gamelan Bali ternyata ditiadakan (atau lebih tepatnya dipindah ke tengah lagu) dan langsung disambut oleh riff piano dan Fill-in Drum yang mengimbangi vokal Ahmad Albar. Seperti pada track lain, beberapa part Ahmad Albar di-handle oleh paduan backing vocal. Perbedaan yang mencolok dari versi lama dan baru ini adalah penurunan tempo lagu, pemindahan intro synth dan Gamelan Bali seperti yang saya tulis di atas dan juga, yang paling saya sesalkan, solo panjang keyboard dan gitar Abadi Soesman dan Ian Antono. Ya, mungkin bagi penggemar dengan kuping nakal seperti saya, hal ini cukup mengecewakan, tetapi ini juga bisa dilihat dari sudut pandang lain kalau kalau ternyata God Bless ingin menyimpelkan aransemen mereka agar terkesan “less-complex” untuk disesuaikan dengan telinga masyarakat Indonesia zaman sekarang.

Selain ketiga track progresif di atas, secara keseluruhan materi, semua lagu lama di album Cermin dihadirkan dengan sound kekinian dan juga aransemen yang baru juga. Seperti “Tuan Tanah” yang dihadirkan dengan musik yang mengingatkan saya akan style skiffle seperti 39-nya Queen dan musik-musik Silampukau bila dalam konteks sekarang. Balada Sejuta Wajah, salah satu lagu yang juga well-known, direinterpretasi dengan sound yang “lebih bersih”. Juga, kehadiran 3 lagu baru (Bukan Mimpi, Bukan Ilusi; Damai, dan Kukuh) di album ini juga memberikan isyarat bahwa God Bless tidak ingin berlama-lama  terpikat dengan nostalgia materi album Cermin. Overall, Cermin 7 saya rasa merupakan sebuah interpretasi ulang materi-materi lama God Bless dengan sound dan style masa kini. Sehingga, terkesan stripped-down dari album Cermin yang asli.

Tentunya, bagi telinga-telinga nakal pecinta “versi asli Cermin” ini, tidak cukup dipuaskan dengan hasil akhir Cermin 7. Terlebih lagi, album Cermin yang asli juga belum dihadirkan kembali di Spotify dan membuat saya harus membuka YouTube untuk mendengarkan ketiga track di atas pada aransemen aslinya. Atau, bila saya sedang mood, mendengarkan versi barunya yang sekarang sedang dipromokan ini. Ya seperti kata saya di awal, bila tujuan God Bless adalah untuk menghadirkan nostalgia materi lama dengan sound kekinian untuk penggemar tradisional seperti saya, agaknya album ini jauh dari kata cukup.

Tetapi, bila tujuan God Bless adalah untuk “menegaskan” alasan mengapa musik mereka disebut “keren”, “technical” dan “mendahului zamannya” (pada era tersebut), agaknya Cermin 7 yang merupakan versi “agak sederhana” ini sudah sangat layak disebut sebagai sebuah jembatan awal untuk membuka kembali mata khalayak ramai tentang titel legendaris God Bless secara estetika bermusik dalam album masterpiece mereka-CERMIN.

-KMPL-

(Artikel ini dimuat di Website Warning Magz, klik di sini untuk membacanya dari situs Warning)

 

Advertisements