ROTAN.jpg

Tiada rotan, kayupun jadi. Sebuah ungkapan klasik masa SD kita dulu. Mengajarkan sebuah hukum bernama “subtitusi” dan kata kerja “atau” yang mengisyaratkan “alternatif”. Dalam artian, benda satu yang bisa digantikan perannya oleh benda lain.

Tetapi, melihat nama band ini, penulis menemukan sebuah “anomali”, di mana mereka tidak memakai kata “atau” dalam jukstaposisi rotan kayu, tetapi “dan” yang mengisyaratkan “komplementerisme”-sebuah hal yang saling melengkapi meskipun sangat berbeda.

Rotan Dan Kayu, sebuah proyek musik yang digawangi Reza “Plur”, Indra, Radit, Tika dan Faruq ini berdiri sejak Januari 2015. Mereka awalnya bertemu di sebuah organisasi musik “ArtPsiUM” di fakultas Psikologi UM dan sepakat membentuk sebuah band. Menurut Plur, filosofi “Rotan dan Kayu” sendiri adalah bagaimana dua benda tersebut ada di sekitar kita, dalam bentuk bangunan-Rumah, yang pada akhirnya menjadi tempat untuk orang-orang berpulang.

Sebagai band indie, Rotan dan Kayu termasuk dari beberapa band UM yang telah melanglangbuana nge-gigs ke seantero Malang. Music and Camp, Blue Monday, No Major Label Elfara, ALVOS RRI, MAS FM 2015, Averland Coffee Toffee 2015 dan banyak lainnya sudah pernah dijajal oleh mereka. Sedangkan di UM sendiri, Rotan dan Kayu pernah main di event Grand Final Duta Kampus UM 2015 kemarin serta Inaugurasi FPPsi 2015. Ini membuktikan bahwa mereka adalah one of the most promising bands in UM.

Secara warna dan corak musik, penulis melihat ada “White Shoes and the Couples Company” dalam pemilihan musiknya, ditambah dengan lirik surealis “Sore” dan romantisme ala “Payung Teduh” di dalamnya. Ini tidak bisa dipungkiri karena background “Plur” (vokal dan departemen lirik) sebagai pemusik Teater Hampa Indonesia yang suka menggunakan diksi-diksi agak abstrak untuk menggambarkan sesuatu dalam lirik-liriknya. Coba dengarkan nomor “Datang Bulan” (tentunya bukan lagu tentang haid) dan “Waktu Itu” (yang menjadi personal favorite penulis). Dua track ini sebenarnya sudah cukup memberikan sebuah “gambaran” warna musik mereka. Mereka sendiri melabeli musik mereka sebagai “chamber pop”, tetapi penulis lebih setuju melabeli Rotan Dan Kayu sebagai band Pop yang bernuansa retro sedikit bossa nova.

Satu hal yang ingin saya bahas tentang lirik Rotan Dan Kayu adalah pemilihan diksinya. Seperti penulis katakan di atas, beberapa judul lagu punya nama yang mungkin terdengar “out of the box”. Semisal, Datang Bulan. Bagi orang awam yang sangat literal, lagu ini mungkin dikira sebagai sebuah lagu tentang siklus menstruasi, tetapi jelas bukan.

Rotan Dan Kayu; L to R; clockwise: Radit, Faruq, Tika, Reza “Plur”, Indra. Source: Dokumentasi Pribadi Rotan Dan Kayu

Atau nomor “Bulu Mata”, sebuah lagu yang liriknya menurut saya agak “aneh”. Liriknya, “Ingin kucabuti bulu matamu, Lalu kutanam di dasar hatiku.” Mengapa bulu mata? Sebuah frasa yang memerlukan pemahaman ekstra dalam pengartiannya. Dan penulispun baru tahu bahwasannya esensi lagu ini merupakan “Cinta dan rasa kagum terhadap seseorang yang bukan lagi berbicara tentang paras, bentuk tubuh atau apapun, namun unsur yang paling sederhana, bulu mata” seperti dikatakan pada deskripsi karyanya.

Pada akhirnya, arti nama “Rotan Dan Kayu” sendiri bukan merupakan hal yang terlalu urgent untuk diperdebatkan. Seperti lirik-lirik mereka, nama Rotan dan Kayu sepertinya memang sangat “terbuka” untuk diinterpretasikan dalam segi filosofisnya, tergantung dari sudut pandang dan background knowledge masing-masing respondennya. “Rotan” yang menggambarkan “kelunakan” serta “Kayu” yang merepresentasikan “ke-atos-an” dan dipadu dengan kata “DAN”-sebuah ungkapan komplementer yang menyimbolkan “kita”-responden musik serta apresiator karya merekalah yang akhirnya menyimbolkan eksistensi “oase musik” berupa band bernama “Rotan Dan Kayu” tersebut.

-KMPL-

IG            : @rotandankayu

CP            : Lupik 0856-9526-4058
Email       : rotandankayu@gmail.com

 

(Artikel ini dimuat dalam Peka_ Zine edisi 2, untuk file .pdf Peka_ Klik di sini)

Advertisements