Luta.jpg

“Luta”, dalam bahasa Portugis berarti “perjuangan”, sebuah kata yang dipilih unit Keroncong progresif asal Malang ini sebagai judul album pertama mereka. Filosofi di balik Luta ini sendiri mungkin sebagai penggambaran “jatuh bangun” mereka selama ini hingga akhirnya ngalbum. Ya, bukan rahasia lagi, Kos Atos merupakan band yang hobi bongkar pasang personel hingga akhirnya menjadi line up yang sekarang ini beranggotakan Vigil (cajon), Mukti (vocal), Fajar Sandy (gitar), Eka (Cak), Risandy (Bass), Krisna (Cuk), Rizky “Helos” (Violin, pianika, suling).

Akhirnya, setelah melewati banyak kesempatan bongkar pasang personel selama kurang lebih 2 tahun, mereka akhirnya merilis album berjudul Luta ke dunia permusikkan kota Malang dan Indonesia. Acara peluncuran ini bertempat di God Bless Cafe 2 Malang pada tanggal 13 September 2016 kemarin. Setelah datang ke konsernya dan membeli album mereka, akhirnya saya memutuskan untuk “bercerita pendek” mengenai “anak” pertama mereka ini.

Dibuka dengan soundscapes kicau burung dan suling kayu yang langsung membawa kita ke dalam suasana pedesaan Indonesia, Salam Untuk Desa membuka album ini. Suasana pedesaan sangat kentara dalam track ini. Selain efek suara di awal lagu, dominasi instrumen suling kayu juga turut berkontribusi dalam “penciptaan” suasana tersebut. Di tengah komposisi juga dihadirkan sinden sebagai “pemanis” lagu. Sisi eksperimental di komposisi ini bisa dilihat pada menit ke 02:56-03:19, di mana Kos Atos melakukan sinkopasi riff dan dilanjutkan dengan part aransemen ala gamelan Jawa dengan instrumentasi Keroncong.

Nomor ini secara liriknya berkisah tentang sebuah kerinduan seseorang akan “desanya”. Menurut penulis sendiri, narator di sini bisa merupakan seorang mahasiswa ataupun anak rantau yang pergi ke kota seperti pada liriknya, “Kutuliskan mimpi dari sepasang kaki yang tak lelah mengejar cita”. Secara khusus, narator menyampaikan rindu pada ayah bundanya dan selalu berharap mereka tak berhenti berdoa demi anaknya, diisyaratkan dengan lirik “Untuk Ayah Bunda, Tetaplah di sana harmonikan hidupku”.

Intro efek noise pada amplifier (mungkin) dan suara-suara listrik, Maka ML (yang pasti bukan lagu tentang “hubungan dewasa”) bertransformasi dari suasana easy-listening (tetap dengan keroncong sebagai instrumentasinya) ke nuansa semi-rockabilly tahun 50’an dan diakhiri dengan Dangdutan dadakan sebelum chorusnya. Tidak lupa pada 01:55-02:15, vokal Mukti diberi efek “Megaphone” sehingga terdengar agak overloud (mungkin memang mereka bertujuan untuk setengah “berorasi” akan orang-orang zaman sekarang).

Dalam nomor ini, Kos Atos mempertanyakan keadaan zaman sekarang di mana banyak orang yang bermuka dua, mengaburkan pandangan antara “kawan” dan “lawan”. Lebih jauh lagi, mereka juga menyindir orang-orang yang senang mencampuri urusan orang (…sirik dengan dunia kawan) dan mempunyai “hobi” (dalam makna peyoratif) mencari sensasi dengan melakukan gosip dan rasan-rasan sebagai budaya “pembunuhan karakter” dan ajang “cari sensasi”.

Setelah diajak “menyindir orang”, pada track ketiga ini Kos Atos mengajak kita berdansa ria ala keroncong. Keroncong Dansa, dalam lagu ini, Kos Atos menghadirkan nuansa ballroom dan bahkan juga beat-beat Waltz ¾ pada beberapa part-nya. Dalam sesi break-nya, fill-in bernuansa Skiffle ala Elvis Presley tahun 50’an seperti Jailhouse Rock dan Hound Dog sangat kentara di dalamnya. Chord-chord dominant seventh yang not-not gitar Sandy yang bertendensi ke rock n’ roll dan bluesy zaman 50’an hadir untuk mengisi part ini. Juga, pada akhir lagu, Kos Atos kembali menghadirkan sinden untuk penutupnya.

Diawali dengan solo gitar Sandy bernuansa klasik, dan dilanjut dengan beberapa chord agak dissonant, Luta, track yang sekaligus menjadi judul album mereka ini menceritakan tentang perjuangan dan berisi nasehat-nasehat untuk  menjalani kehidupan (atau mengejar sesuatu lebih tepatnya). Beberapa part menawarkan sound-sound yang surprising, seperti adanya sound organ di menit 3:31 (mengingatkan saya pada tahun 60’an, particularly hits Procol Harum “A Whiter Shade of Pale”). Juga, ini adalah satu dari beberapa track di mana Helos memainkan instrumen selain violin, yaitu pianika.

Lalu ada track Ingatku yang kali ini menyuguhkan solo violin dari Helos yang lagi-lagi dalam nuansa klasik (mungkin salah satu influence kental mereka semua). Track ini bercerita tentang terima kasih seorang anak kepada orang tuanya. Ini bisa dihubungkan dengan background masing-masing personel yang memang berstatus mahasiswa; ini juga sudah disampaikan pada track pertama, “Salam untuk Desa”. Sedikit catatan, pola arpeggio Cak pada verse pertama mengingatkan saya akan Anthem UEFA Champions League (atau mungkin perasaan saya saja ya…hehehe)

Cerita, track keenam album ini adalah tentang- manut dengan tema yang ada, perjuangan. Lagu ini menurut saya adalah lagu Kos Atos yang paling “nge-pakem”. Relatif tidak ada variasi dan element of surprise seperti track lainnya. Lalu ada Segala Rasa dengan tema “menentukan tujuan” kentara ada di setiap lirik lagu ini. Sekilas ada sound trumpet di beberapa part. Saya curiga 2 track ini, Cerita dan Segala Rasa adalah tribute Kos Atos untuk Fakultas tempat mereka kuliah, Fakultas Sastra. FYI, tagline fakultas Sastra kampus mereka adalah “Cerita Segala Rasa”.

Track pamungkas untuk menutup album Luta ini adalah Hari Ini. Inilah nomor Kos Atos yang menurut saya paling menggoda telinga, terutama saat Live. Ya, Hari Ini, menceritakan optimisme seseorang dalam menjalani setiap hari. Track yang mungkin memang disiapkan Kos Atos untuk singalong dengan penonton ini tentunya punya lirik yang catchy dan cenderung gampang diingat. Tetapi tetap, dengan nuansa Keroncong. Perhatikan juga break instrumen di tengah yang menjadi element of surprise (3:03-3:25) dan juga interlude violin yang menghadirkan suasana “megah” sebelum ditutup dengan reff di akhir lagu. Ya, jika ada satu lagu yang saya pilih untuk diluncurkan sebagai single, mungkin lagu ini yang akan saya ambil.

Overall, kelebihan atau nilai plus album ini adalah banyaknya sesuatu yang ditawarkan dalam label genre Keroncong, dalam artian, mereka tidak ingin terjebak dalam kategorisasi format dan pakem “yang itu-itu saja”. Kos Atos berani memberikan daya tarik berupa aransemen-aransemen dan munculnya “suara-suara” yang bisa dibilang tidak cukup lazim di musik Keroncong. Memang, sepertinya Kos Atos juga tidak ingin “hanya” disebut sebagai band keroncong saja, tetapi juga “plus-plus” (seperti yang pernah saya bahas di lain kesempatan dulu dan juga press release mereka) yang pada akhirnya bisa dipandang sebagai “upaya mengembangkan keroncong itu sendiri”. Tentunya tidak semua orang setuju dengan mereka, apalagi bila bicara tentang para “fundamentalis” keroncong yang menginginkan keroncong tetap pada “pakemnya”. Tetapi, hei! Bukankah Paco de Lucia dulu juga dihujat para fundamentalis Flamenco sebelum dipuja-puja dunia karena usahanya memperluas musik Flamenco? (Ini bisa jadi excuse kalau nanti-nanti ada yang mendebat Kos Atos, hehehe)

Kekurangan album ini mungkin kepada penggunaan diksi yang agak terlalu obvious dalam menggambarkan “perjuangan”. Dalam artian, dalam beberapa lagu, ada kata-kata yang diulang lagi untuk mempertegas tema perjuangan di album ini. Menurut saya, akan lebih baik jika ada variasi diksi dalam bahasa penyampaian lirik di depannya. Memang, mungkin hal ini dikarenakan Kos Atos sengaja menganggap album ini sebagai sebuah “concept album” atau lebih tepatnya album dengan satu tema besar (karena definisi concept album sendiri juga masih jadi perdebatan antara album dengan satu cerita besar dengan setiap lagu yang saling berhubungan atau hanya satu “tema” besar meskipun satu lagu tidak berhubungan langsung dengan yang lainnya).

Tetapi, bukankah album The Wall-nya Pink Floyd juga tidak melulu bicara dengan kosakata “tembok” di dalamnya ‘kan?

-KMPL-

 

Singkat:

(+) Banyak variasi, aransemen-aransemen yang tak terduga, tidak melulu terdekam dalam sebuah pakem, packaging yang bagus dan mengena.

(-) Diksi lirik yang agak “obvious” dengan kata “berjuang” dan sebagainya

 

 

Tulisan ini dimuat di website Srawung Media (srawungmedia.com)

Advertisements