ISaya tidak tahu apa yang ada di benak dan otak Aan, Sat, Roub, Drajat, Eka dan Teddy waktu membuat band ini. Band “padat” dengan lebih dari 3 instrumen melodis yang paling sering ditemui mungkin terdiri dari gitar 2 dan keyboard. Tetapi bagaimana bila dalam 1 band, ada 4 ALAT MELODIS DAN KESEMUANYA ITU GITAR? Mungkin hanya I yang berani melakukannya…

Saya pribdi adalah seseorang yang suka akan “efisiensi”, dalam artian bila cukup 1 instrumen saja bisa melakukan “A” dan “B”, maka tidak perlu ada instrumen kedua untuk melakukan “B”, kecuali bila memang itu sangat dibutuhkan dalam timbre ataupun keperluan lainnya. Dan jujur saja, pertama kali melihat I dengan 4 gitarnya tersebut, penulis awalnya merasa such a waste dalammenyandingkan 4 gitar-4 instrumen dengan range nada yang kurang lebih sama sekaligus dalam 1 band. Apalagi, bila pada akhirnya banyak part-part unison (sama) terus menerus ataupun “hanya sebagai pendukung satu instrumen lead saja dalam komposisinya. Ini adalah mindset awal saya ketika melihat band dengan formasi “padat”, apalagi dengan instrumen melodis lebih dari 2 buah. Tani Maju dan Harmoniora (khususnya waktu mereka masih berdelapan) adalah pengecualian bagi penulis- Malahan, kedua band itu saya personally respect dalam terms pemaksimalan instrumen.

Tetapi tidak. Saya harus menelan ludah saya sendiri waktu melihat pertunjukkan I. Cerdas. Yang saya kira ketiga gitar lainnya hanya sebagai pendukung 1 lead ternyata salah kaprah. Treatment 4 gitar tersebut malah menjadikan ada 4 “sudut pandang” independen dalam satu komposisi. Pada nomor Prologue; Twilight Waves For The Mourning Widows misalnya, I menghadirkan sound dan isian gitar mewakili kebingungan dan keresahan seorang manusia yang telah ditinggal sendiri,. Pemilihan mode D Minor dan progres dinamika dari tremolo, hingga arpeggio sederhana untuk pemanisnya dan digenapi oleh masuknya Drum dalam komposisi ini memang merupakan sebuah penggambaran jelas dan sesuai judulnya, sebuah senja di hadapan janda yang masih meratapi kepergian.

Sebagai band post-rock, sebuah label yang mereka bawa di bawah nama mereka yang simpel, I, sebagaimana band post-rock pada umumnya, mereka meleburkan instrumentasi rock untuk tujuan non-rock; gitar untuk membentuk sebuah “suasana”, instead of hanya membentuk riff, seperti kata Simon Reynolds. Warna musik band post-rock macam Explosions in the Sky, Mono, God Is an Astronaut bisa anda temukan dalam komposisi-komposisi I. keempat track dalam split mereka ini kesemuanya merupakan instrumental. Secara individu, Drajat biasa bertugas sebagai “pembuka jalan”, Aan biasa menimpali dengan tremolo, Roub lalu mempermanisnya dengan filler dan Sat membuat melodi yang biasanya terdiri dari arpeggio. Sedangkan Eka dan Teddy sebagai rhythm section tetap bertugas untuk outline “pijakan” sembari membantu menaikturunkan dinamika musik.

Satu hal lagi dari I adalah stage showmanship mereka. Iya, ketika dalam setting live penulis pernah memergoki Aan membanting gitarnya sampai patah. Di lain kesempatan, dia menggunakan stik drum dengan menggesernya dari bawah ke atas untuk memutuskan senar-senar gitarnya. Penulis tidak tahu apakah mereka terinspirasi dari auto-destructive art-nya The Who di tahun 60’an, “terhanyut” oleh musik mereka sendiri atau ada motivasi lain sebagai bagian dari performance artI sendiri. Yang jelas, penulis sampai pernah berteriak “Jancok” saat melihat aksi mereka dalam satu gig.

      Review ini merupakan subyektif saya sendiri, tetapi saya ingin mengambil sudut pandang partner saya Kipul. Ia mendeskripsikan musik I sebagai musik yang meresap, menyeret kita, penontonnya untuk masuk dalam dunia ciptaan mereka sendiri. Kipul sendiri pernah sampai meneteskan air mata saat melihat presentasi musik I pada saat mereka manggung di Music and Camp kemarin.

Dalam pengkaryaan I telah merilis split album bersama band dari Jepang, Plant Cell kemarin di Record Store Day dan digawangi oleh Gerpfast Kolektif dan The Paimo.

-KMPL-(+ Kipul)

CP                          : +6281331755750 (Ridl)

IG                           : @ipostrockid

YouTube              : I-Postrock (Keywords)

 

(Artikel ini dimuat dalam Peka_ Zine edisi 2, untuk file .pdf Peka_ Klik di sini)

Advertisements